twitter
rss

Tampilkan postingan dengan label Berita kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita kesehatan. Tampilkan semua postingan


Stres diketahui bisa berdampak terhadap tubuh. Tapi jika stres yang dialami cenderung parah maka kondisi ini bisa memicu timbulnya reaksi alergi dari dalam tubuh.

Hampir sebagian besar orang tahu bahwa stres bisa mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, tapi ternyata stres emosional dan mental bisa bernar-benar berdampak terhadap reaksi fisik termasuk alergi.

Beberapa penelitian sudah berusaha mencari tahu mengapa stres dapat memicu reaksi alergi, hasilnya diperkirakan sel mast sebagai pelaku dari kondisi yang timbul.

Ketika alergi, sel mast turut berpengaruh setelah antibodi immunoglobulin E bergabung dan memicu keluarnya zat defensif seperti antihistamin terhadap rangsangan dari alergen (pemicu alergi) seperti protein makanan dan serbuk sari.

Dalam Journal of Heuroimmunology tahun 2004 diketahui ketika seseorang stres, suatu immunoglobulin menyebabkan sel mast melepaskan histamin dan zat-zat lain yang dapat menciptakan alergi, seperti dikutip dari Livestrong, Kamis (3/11/2011).

Para peneliti dari Ohio State University telah menemukan stres dapat meningkatkan keparahan alergi yang ada. Tidak hanya reaksi kulit yang lebih besar tapi memicu reaksi lainnya yang lebih parah sehingga sulit untuk diobati.

Reaksi alergi yang paling sering dialami adalah gatal-gatal pada kulit yang kadang bisa membuat orang tersebut menjadi frustasi dalam mengetahui penyebabnya. Padahal University of Maruland Medical Center mencatat gatal-gatal ini bisa jadi sebagai respons dari stres itu sendiri.

Selain bisa memicu dan memperburuk reaksi alergi yang sudah ada, stres juga dapat memperburuk asma seperti berkontribusi dalam meningkatkan serangan asma.

Untuk itu jika gatal-gatal yang muncul di kulit tak juga diketahui penyebabnya atau reaksi alergi yang semakin parah, kemungkinan hal ini disebabkan oleh stres yang dialami. Salah satu cara mencegahnya adalah mencaritahu cara mengelola stres dengan baik.

Saat stres, cemas atau depresi kadang orang melampiaskannya pada makanan, tapi sebaiknya jangan asal pilih makanan, karena bisa jadi makanan tersebut justru memperburuk kondisi yang ada.

Makanan tertentu seperti cokelat atau es krim diketahui bisa mengurangi stres. Tapi ada pula makanan yang justru bisa memperburuk stres sehingga harus dihindari.

Untuk itu ketahui makanan yang bisa membuat atau memperburuk stres, cemas dan depresi, seperti dikutip dari thedailymind.com, Kamis (22/9/2011) yaitu:

1. Kopi
Hubungan ini biasanya datang dari gula dan kafein yang ada di kopi. Umumnya setelah minum kopi orang akan menjadi lebih waspada tanpa mengetahui terlebih dahulu apa penyebab dirinya stres, sehingga jika efek tersebut hilang maka perasaan stres atau cemas akan datang lagi dan mungkin bisa lebih buruk.

2. Daging
Dulu banyak orang Timur yang berpikir, depresi setelah makan daging dikarenakan adanya rasa bersalah dalam diri karena telah membunuh binatang. Tapi para ilmuwan modern bisa menjelaskan alasan yang lebih ilmiah. Konsumsi daging bisa menyebabkan kerusakan pada kadar insulin serta beberapa sistem lainnya di dalam tubuh.

3. Alkohol
Alkohol bisa mengubah zat kimia di otak yang membuat seseorang menjadi lebih depresi dalam jangka waktu panjang. Kondisi ini membuat seseorang minum lebih banyak dari yang seharusnya karena sulit baginya untuk merasa lebih baik.
Serta yang menyedihkan adalah buat orang yang sebenarnya hanya sedikit stres atau depresi, justru akan menjadi lebih tertekan dibanding sebelumnya setelah mengonsumsi alkohol.

4. Makanan cepat saji
Studi terkini yang dimuat dalam The British Journal of Psychiatry menyebutkan bahwa makan junk food atau cepat saji akan membuat seseorang depresi atau memperburuk kondisinya dibanding dengan orang yang menghindari makanan tersebut.

Hal terbaik yang bisa dilakukan saat sedang stres adalah mengonsumsi buah-buahan, sayuran, susu dan bahan-bahan alami lainnya yang bisa membuat seseorang menjadi lebih baik, serta hindari makanan yang diproses dan penuh lemak, garam.

Penyalahgunaan obat pereda nyeri atau painkiller terus meningkat. Bahkan, menurut laporan pemerintah Amerika Serikat, kematian akibat overdosis obat pereda nyeri mencapai angka tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Obat pereda nyeri yang diresepkan seperti OxyConton, Vicodin, dan metadone, diperkirakan memicu 15.000 kematian di tahun 2008, termasuk aktor Hollywood Heath Ledger. Jumlah tersebut tiga kali lebih besar daripada kematian akibat narkotik di tahun 1999 yang mencapai 4.000 kasus.
"Obat-obatan pereda nyeri itu sebenarnya untuk mengobati orang yang menderita nyeri hebat. Tapi bisa menyebabkan ketagihan," kata Dr.Thomas Frieden, direktur Center for Disease Control and Prevention (CDC), AS.
Dalam laporan disebutkan, hampir lima persen penduduk AS berusia di atas 12 tahun ketagihan mengonsumsi obat pereda nyeri, bahkan membelinya tanpa resep untuk mabuk.
Menurut Frieden, kematian akibat overdosis pereda nyeri itu mencerminkan peningkatan resep narkotik. Kondisi ini juga terjadi karena dokter ingin melakukan terapi nyeri secara lebih baik seiring dengan beredarnya obat-obatan painkiller terbaru.
"Dokter seharusnya membatasi peresepan, pasien harus diberikan untuk kebutuhan 3 hari, terutama nyeri akut. Untuk nyeri kronik, narkotik seharusnya jadi pilihan terakhir," katanya.
Menurut Frieden, badan berwenang di AS akan melakukan langkah-langkah pencegahan. Beberapa negara bagian juga dilaporkan sudah melakukan tindakan. Misalnya saja, di Ohio sekarang klinik nyeri harus mendapatkan lisensi dari negara dan dibuat batasan jumlah pil di setiap klinik.

Penyakit diabetes merupakan penyakit kronik yang bersifat progresif dan bisa menyebabkan komplikasi pada berbagai organ tubuh. Komplikasi kaki diabetik merupakan salah satu komplikasi yang menakutkan dan bisa menyebabkan kematian.
Data menunjukkan, sepertiga pasien diabetes akan mengalami masalah pada kaki. Menurut staf Divisi Metabolik Endokrin Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM Prof.Sarwono Waspadji, komplikasi kaki diabetik terjadi karena kadar gula darah dibiarkan tinggi bertahun-tahun sehingga menyebabkan kerusakan saraf dan gangguan pembuluh darah.
"Saraf yang sudah rusak membuat pasien diabetes tidak bisa merasakan sensasi panas dan sakit pada kaki," katanya dalam acara media edukasi bertajuk Jangan Abaikan Kelainan Kaki Diabetik, Lakukan Deteksi Dini, di Jakarta (2/11/11).
Akibat menurunnya kepekaan saraf kaki, pasien diabetes menjadi rentan terhadap luka. "Luka yang tadinya kecil juga bisa berkembang menjadi borok dan infeksinya menyebar sehingga harus diamputasi," imbuhnya.
Untuk itu, pasien diabetes harus menjaga kadar gula darahnya tetap normal dan melakukan deteksi dini. "Kadar gula darah yang tinggi merupakan makanan bagi kuman yang bisa menyebabkan infeksi bertambah buruk," kata dr.Em Yunir, Sp.PD, dalam kesempatan yang sama.
Ia menjelaskan, secara umum ada 5 pilar penanganan kaki diabetik untuk mencegah risiko amputasi. 

1. Lakukan pemeriksaan kaki secara rutin
Pemeriksaan ini bisa dilakukan pasien sendiri, perawat, atau dokter. "Waspadai jika ada penonjolan tulang, telapak kaki mendatar, atau jari bengkok. Pasien juga setiap saat harus melihat kakinya apakah ada luka," kata Em Yunir.
2. Identifikasi faktor risiko
Dokter akan melakukan pemeriksaan pada pasien untuk mengetahui apakah pasien beresiko tinggi menderita luka diabetik. Pemeriksaan meliputi mengetahui riwayat luka, apakah sudah menderita diabetes lebih dari 10 tahun, riwayat kadar gula darah, ada tidaknya gangguan penglihatan, dan lain sebagainya.
3. Edukasi
Memberikan eduksi kepada pasien mengenai pentingnya menjaga kadar gula darah dan perawatan kaki.
4. Penggunaan sepatu khusus sesuai bentuk telapak kaki
"Penderita diabetes dengan neuropati sering mengalami perubahan tekanan pada kaki, sehingga jangan memaksakan memakai sepatu di pasaran," kata Yunir.
5. Perawatan sebelum luka
Pasien akan diajari untuk merawat kaki secara teratur untuk menjaga kelembaban kaki serta tidak sembarangan mengobati luka sendiri.

Sistem kekebalan tubuh akan terus menurun seiring bertambahnya usia. Kondisi ini menyebabkan orang lanjut usia (lansia) semakin rentan terhadap infeksi yang terkait dengan kekebalan tubuh. Beberapa vaksin direkomendasikan untuk lansia agar tidak terlalu sering sakit-sakitan.

Penyakit seperti pneumonia, infeksi saluran kemih dan infeksi kulit sangat umum terjadi pada lansia, dan kadang menjadi jauh lebih parah dibandingkan pada remaja.

Salah satu penyebabnya karena perubahan utama adalah pada organ yang disebut timus, yang berada di belakang tulang dada. Beberapa sel yang paling penting dari sistem kekebalan tubuh, yang disebut limfosit T (atau sel T) matang dalam timus, sebelum dikirim keluar ke seluruh tubuh untuk melaksanakan berbagai mekanisme perlawanan.

Seiring berjalannya usia, timus menyusut sehingga hanya menjadi sekitar 5 persen dibandingkan saat lahir, sehingga produksi sel T turun drastis. Jumlah sel darah putih lainnya juga turun drastis, dan pada saat yang sama juga menurunkan kemampuan untuk membuat antibodi. Sedangakan produksi auto antibodi yang menyerang jaringan tubuh sendiri, justru sedikit meningkat.

Perubahan penting lainnya adalah berkurangnya daya hambat pada infeksi seperti kulit menjadi lebih tipis. Sehingga menyebabkan retakan kecil pada kulit yang memungkinkan bakteri masuk ke dalam tubuh. Lapisan usus juga berubah, sehingga memungkinkan mikroorganisme masuk ke dalam tubuh lebih mudah.

Para lansia harus berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu untuk mengetahui vaksin apa yang perlu didapatkan.

Seperti dikutip dari BBCHealth, Rabu (2/11/2011), berbagai macam vaksin yang direkomendasikan untuk lansia, antara lain:

1. Vaksin flu musiman
Vaksin ini biasanya direkomendasikan untuk semua orang berusia 65 tahun ke atas, yang kurang mampu memerangi flu, dan lebih mungkin untuk mengalami komplikasi atau kematian oleh karena flu.

Vaksin ini harus diberikan setiap tahun karena virus flu selalu berubah. Dosis yang lebih tinggi mungkin diperlukan pada lansia.

2. Pneumococcus polysaccharide (PPV)
Vaksin ini melindungi diri dari sepertiga strain bakteri Streptococcus pneumoniae, yang juga dikenal sebagai pneumokokus.

Sekitar 50-70 persen vaksin ini efektif dalam mencegah jenis penyakit yang lebih serius seperti pneumonia pneumokokus, sepsis (keracunan darah) dan infeksi lainnya. Vaksin ini direkomendasikan untuk semua orang yang berusia lebih dari 65 tahun.

3. Varisela (cacar air)
Vaksin ini dapat melindungi tubuh dari virus cacar, yang cenderung menyebabkan gejala yang jauh lebih buruk pada orang dewasa daripada pada anak-anak.

Vaksinasi ini tidak banyak digunakan di Inggris, tetapi dapat direkomendasikan untuk orang dewasa yang ketika kanak-kanak belum terinfeksi, sehingga belum imun terhadap virus tersebut.

4. Herpes zoster
Herpes zoster adalah ruam kulit yang menyakitkan yang disebabkan oleh reaktivasi dari virus Varicella zoster (VZV) yang menyebabkan cacar air. Penyakit ini paling umum terjadi pada orang tua dan dapat menyebabkan gejala yang cukup parah dan rasa sakit kronis yang dapat berlangsung berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Joint Committee on Vaccination and Immunisation telah menyarankan program vaksinasi keseluruhan herpes zoster akan direkomendasikan untuk orang berusia 70-79 tahun.

5. Tambahan vaksin di masa kanak-kanak
Ada bukti yang berkembang bahwa kekebalan terhadap penyakit oleh karena vaksinasi di masa kecil dapat berkurang, terutama untuk difteri atau batuk rejan. Sampling dari tes darah menunjukkan bahwa, sekitar 50 persen orang dewasa Inggris selama 30 tahun rentan terhadap difteri, meningkat menjadi lebih dari 70 persen pada lansia.

Vaksin lain seperti vaksin tetanus yang dikenal memiliki efek terbatas, dan tambahan vaksin diberikan setiap 10 tahun. Sehingga tambahan vaksin juga direkomendasikan untuk diberikan pada lansia.

6. Melindungi orang dewasa yang memiliki risiko
Beberapa vaksin dapat direkomendasikan untuk orang dewasa jika mereka memiliki risiko tinggi terhadap infeksi tertentu. Hal tersebut dapat termasuk travel vaccines, seperti hepatitis A, Japanese encephalitis atau demam kuning, hepatitis B, dan BCG (yang melindungi dari TBC).

Sayangnya, lansia tidak menanggapi secara positif mengenai vaksinasi seperti pada orang muda. Cara baru sedang dikembangkan untuk membuat vaksin yang lebih efektif seperti jenis baru dari pemberian vaksin yang menciptakan respons kekebalan yang lebih kuat.

Hal tersebut seperti vaksin flu yang disuntikkan ke lapisan paling atas kulit atau dengan cara menghirup untuk memberikan vaksin langsung ke paru-paru. Namun kedua cara vaksinasi tersebut sedang diuji.

Columbia, Penelitian membuktikan, daya ingat mengalami penurunan saat seseorang terlalu banyak tertawa atau berada dalam suasana hati yang gembira.

Fenomena ini dapat menjelaskan mengapa orang menjadi agak pelupa saat berada dalam sebuah pesta. Misalnya ketika bertukar nomor telepon dengan rekan lama dalam sebuah acara yang penuh canda tawa, jika tidak dicatat seringkali akan langsung lupa begitu sampai di rumah.

Lain halnya saat seorang guru matematika yang galak menyuruh siswanya menghafal hitung-hutingan perkalian. Suasana hening yang menegangkan kadang-kadang justru membuat ingatan lebih tajam sehingga lebih mudah menghafal perkalian 1 sampai 100.

Penelitian yang dilakukan oleh Dr Elizabeth Martin dari University of Missouri menunjukkan, emosi positif misalnya gembira dan senang justru mengurangi kemampuan mengingat untuk sesaat. Meski begitu, emosi negatif juga tidak serta merta meningkatkan daya ingat.

Dalam eksperimen yang dilakukannya, Dr Martin melibatkan sejumlah relawan yang dibagi menjadi 2 kelompok. Satu kelompok dipertontonkan beberapa video lucu, sedangkan kelompok yang lain dipertontonkan video tutorial pemasangan ubin yang pastinya membosankan.

Usai menonton video, seluruh pastisipan menjalani serangkaian tes untuk mengukur daya ingat. Tes itu berupa sederet angka yang diberikan secara lisan melalui earphone, lalu partisipan diminta menyebutkan beberapa angka dalam deret tersebut.

Dibandingkan partisipan yang menonton video tutorial pemasangan ubin, partisipan yang menonton video lucu lebih banyak melakukan kesalahan. Perbedaannya cukup signifikan sehingga Dr Martin menyimpulkan bahwa emosi positif bisa mengurangi daya ingat.

"Namun emosi positif juga tidak selamanya buruk. Meski daya ingat menurun, seseorang yang memiliki emosi positif biasanya justru memiliki problem solving (kemampuan memecahkan masalah) yang lebih kreatif," ungkap Dr Martin dalam laporannya di jurnal Cognition and Emotion, seperti dikutip dari Medicalnewstoday, Kamis (31/3/2011). (detikhealth.com, 31/03/2011)

Humor memang diketahui dapat menjadi obat yang mujarab untuk menghilangkan stres, depresi ataupun suasana hati yang buruk. Seperti dikutip dari Beliefnet.com, Sabtu (20/11/2010) ada beberapa manfaat humor bagi kesehatan seseorang, yaitu;

1. Humor bisa membuat rileks
Seperti latihan pada umumnya, humor yang membuat orang tertawa akan bekerja untuk melawan stres kronis sehingga membuat seseorang merasa rileks atau santai. Ketika orang mendapatkan humor, maka sistem saraf otonom akan menurun yang membuat jantung lebih santai.

2. Humor bisa mengurangi rasa sakit
Dr Elias Shay, kepala psikiatri dari Good Samaritan Hospital di Baltimore mengungkapkan dengan menonton komedi atau terlibat sesuatu yang berhubungan dengan lelucon bisa mengurangi rasa sakit yang dialami seseorang.

Diketahui pula seseorang yang mendapatkan rangsangan humor setelah operasi bisa mengurangi rasa sakit dan mengurangi potensi pemberian obat.

3. Humor bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh
Studi yang dipimpin oleh Lee Berk dan Stanley A Tan dari Loma Linda University di Loma Linda, Califormia tahun 2006 ditemukan dua hormon yaitu beta endorfin (mengurangi depresi) meningkat 27 persen dan human growth hormone/hGH (yang membantu kekebalan tubuh) meningkat 87 persen ketika menonton video lucu.

Hal ini menunjukkan bahwa humor atau lelucon menyenangkan bisa meningkatkan kemampuan tubuh untuk melawan virus, sel-sel asing dan bahan kimia berbahaya.

4. Humor mengurangi stres

Peneliti dari Loma Linda University juga menemukan humor dan lelucon bisa membantu mengurangi tingkat 3 hormon yang berhubungan dengan stres yaitu kortisol (hormon stres), epinefrin (adrenalin) dan juga hormon dopac. Karenanya peneliti menyarankan cara positif seperti humor untuk mengurangi hormon stres yang merugikan.

5. Humor mengurangi rasa takut

Humor adalah alat kebahagiaan yang paling mendasar. Secara fisiologis humor dapat menutupi rasa takut yang dialami oleh seseorang pada saat yang sama. Jadi humor bisa mengubah persepktif seseorang mengenai memori yang menyakitkan di masa lalu dan menggantinya dengan kebahagiaan.(detikhealth.com, 20/11/2010)

Salah satu trik yang sering dipakai penggemar makanan enak, tetapi tak mau berat badan bertambah, adalah minum segelas air sebelum makan. Alasannya sederhana, dengan minum air, perut akan terasa penuh sehingga rasa lapar berkurang. Akibatnya, jumlah suapan yang masuk ke mulut pun lebih sedikit.

Baru-baru ini para ahli mengumumkan hasil temuan mereka mengenai korelasi antara minum air dan berat badan. Dalam sebuah studi acak, para ahli dari Virginia Tech mengamati sekelompok orang yang kegemukan berusia 55 tahun selama tiga bulan. 

Semua responden menjalani diet rendah kalori. Separuhnya diminta minum dua cangkir air sebelum makan. Pada akhir penelitian terbukti bahwa berat badan orang yang terbiasa minum air akan berkurang sekitar 15,5 pounds (sekitar 7 kg), sedangkan kelompok yang tidak minum air hanya berkurang 4,9 kg.

Penelitian tahun 2008 juga menunjukkan hasil yang serupa, yakni pengurangan berat badan hingga 13 persen pada orang yang minum air sebelum sarapan. 

Namun, penelitian lain di tahun 2007 menunjukkan hasil agak berbeda. Disebutkan bahwa minum air 30 menit sebelum makan memang mengurangi asupan kalori dan rasa lapar. Namun, efek ini hanya didapatkan oleh orang yang berusia tua. Pada orang yang usianya kurang dari 35 tahun, manfaat minum air sebelum makan ini tidak terlalu terasa.

Memang belum jelas mengapa hal itu terjadi. Namun, para ahli menduga para orang yang mulai lanjut usia memang memiliki risiko peningkatan berat badan yang lebih tinggi. 

Itu sebabnya para ahli menyimpulkan bahwa minum air sebelum makan bisa mengurangi asupan kalori. Namun, dampaknya lebih nyata pada orang yang mulai lanjut usia.


sumber : Kompas.com (20 November 2010)





Bagi para perokok, rokok merupakan sebuah konsumsi wajib harian yang tidak bisa ditinggalkan. Umumnya mereka sadar akan bahaya rokok bagi tubuh tetapi terasa sulit sekali meninggalkan kebiasaan tersebut. Efek nikotin dalam rokok yang menimbulkan kenikmatan dan kecanduan merangsang otak sehingga setelah rasa nikmat berkurang, seseorang akan kembali menghisap rokok. Banyak alternatif yang dilakukan agar seseorang dapat berhenti merokok, salah satunya melalui terapi obat. Berikut adalah beberapa obat yang dapat membantu mengurangi kecanduan akibat rokok.



VARENICLINE
Varenicline adalah agen penghenti merokok. Obat ini bekerja di otak dengan cara menghambat efek menyenangkan dari rokok. Hal ini menurunkan keinginan untuk merokok.

Indikasi:
Membantu untuk berhenti merokok.
Dosis:
1 mg melalui mulut (per oral) 2 kali sehari, diikuti dengan titrasi selama 1 minggu.
Hari 1-3: 0.5 mg melalui mulut (per oral), 1 kali sehari
Hari 4-7: 0.5 mg melalui mulut (per oral), 2 kali sehari
Hari 8-akhir masa pengobatan: 1 mg melalui mulut (per oral), 2 kali sehari
Durasi: 3-6 bulan
Pelaksanaan:
Mulai dosis 1-2 minggu sebelum sasaran tanggal berhenti.
Efek Samping:
Mual, insomnia, sakit kepala, mengantuk, kepeningan, mimpi yang aneh, kelelahan, ketidaknyamanan perut, peningkatan nafsu makan.
Instruksi Khusus:
Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan disfungsi ginjal, mereka yang sedang menjalani dialisis dan pasien dengan 
penyakit psikiatrik yang serius. (Sumber)


NICOTINE LOZENGE
Nicotine Lozenge adalah pencegah merokok. Nicotine Lozenge bekerja dengan menyediakan nikotin dengan kadar rendah, yang membuat berhenti merokok dengan mengurangi tanda-tanda fisik dari gejala-gejala ketagihan.
Indikasi:
Membantu untuk berhenti merokok.
Daya obat yang tersedia:
1 mg/loz
Dosis:
1 loz setiap 1-2 jam
Dosis yang biasa: 8-12 loz/hari
Kurangi dosis secara bertahap setelah 3 bulan dan hentikan penggunaan ketika hanya 1-2 loz/hari digunakan
Dosis maksimum: 25 loz/hari
Durasi maksimum: 6 bulan
Efek Samping:
Iritasi lokal pada mulut dan tenggorokan, batuk, rhinitis, ketidaknyamanan perut, tersedak.
Instruksi Khusus:
Berhenti merokok secara total sebelum memulai terapi.
Harus dihisap dengan lambat sampai rasanya semakin kuat. Diamkan loz antara dinding pipi dan gusi. Ketika rasanya menghilang, ulangi proses hingga lozenge selesai (sekitar 30 menit).(sumber)


NICOTINE NASAL SPRAY
Nicotine nasal spray adalah pencegah merokok. Nicotine nasal spray digunakan untuk menghilangkan gejala ketagihan pada orang yang mencoba untuk berhenti merokok. Nicotine nasal spray ini harus digunakan sebagai bagian dari program penghentian merokok yang komprehensif.
Indikasi:
Membantu untuk berhenti merokok. 
Daya obat yang tersedia:

500 mcg/spray
Dosis:
1 semprotan (spray) ke dalam masing-masing lubang hidung seperti yang diperlukan.
Dosis maksimum: 2 semprotan/jam atau 64 semprotan/hari
Durasi maksimum: 3 bulan
Efek Samping:
Iritasi hidung, rhinitis, iritasi tenggorokan, mata berair, batuk.
Instruksi Khusus:
Berhenti merokok secara total sebelum memulai terapi.
Berikan ke dalam hidung melalui metered dose spray pump. Miringkan kepala sedikit ke belakang. Jangan mengendus, menelan atau menghirup melalui hidung selama pengaturan, karena akan menyebabkan iritasi.(sumber)


NICOTINE INHALER
Nicotine Inhaler adalah pencegah merokok. Nicotine Inhaler bekerja dengan menyediakan nikotin dengan kadar rendah, yang membuat berhenti merokok dengan mengurangi tanda-tanda fisik dari gejala-gejala ketagihan.
 Indikasi:
Membantu untuk berhenti merokok.
Daya obat yang tersedia:
10 mg/cartridge (isi)
Dosis:
Dosis yang biasa: 6-12 isi/hari selama 12 minggu, kemudian kurangi secara bertahap selama 4-12 minggu.
Durasi maksimum: 6 bulan

Efek Samping:
Iritasi lokal pada mulut dan tenggorokan, batuk, rhinitis, ketidaknyamanan perut, tersedak.
Instruksi Khusus:
Berhenti merokok secara total sebelum memulai terapi.
Gunakan inhaler seperti menggunakan rokok, ambil 4 isapan/menit. Gunakan selama 20 menit setiap kali muncul keinginan merokok. Inhaler akan habis sekitar 4 sesi penggunaan. Satu cartridge (isi) bisa menggantikan 4 rokok  (sumber)


NICOTINE GUM
Nicotine gum adalah pencegah merokok. Nicotine gum bekerja dengan menyediakan nikotin dengan kadar rendah, yang membuat berhenti merokok dengan mengurangi tanda-tanda fisik dari gejala-gejala ketagihan.
Indikasi:
Membantu untuk berhenti merokok.
Daya obat yang tersedia:
2 mg/permen karet, 4 mg/permen karet
Dosis:
6-12 permen karet/hari selama 3 bulan, sebelum penurunan bertahap
≤20 rokok/hari: 2 mg permen karet (Dosis maksimum: 24-25 permen karet/hari)
>20 rokok/hari: 4 mg permen karet (Dosis maksimum: 15 permen karet/hari, Durasi maksimum: 12 bulan)
Efek Samping:
Rasa sakit di mulut, tersedak, dyspepsia, dan sakit tenggorokan.
Instruksi Khusus:
Berhenti merokok secara total sebelum memulai terapi.
Permen karet harus dikunyah dengan lambat hingga rasanya menjadi kuat kemudian letakkan antara dinding pipi dan gusi untuk memfasilitasi penyerapan nicotin melalui oral mucosa. Permen karet harus dikunyah dengan lambat dan sebentar-sebentar selama 30 menit ketika keinginan merokok terjadi.(sumber)








Boston, Selain menyebabkan penyakit jantung, stroke dan kanker paru-paru, rokok juga dapat mempengaruhi kejantanan pria. Tak hanya disfungsi ereksi atau impotensi, rokok ternyata juga dapat memperpendek ukuran penis.

Temuan ini berdasarkan hasil studi yang telah dilakukan oleh peneliti dari Boston University School of Medicine terhadap 200 partisipan pria perokok. Dari hasil penelitian, rata-rata perokok mengalami pemendekan penis sebesar 1 cm.

"Ini merupakan penelitian terbesar yang pernah ada tentang rokok yang terkait dengan sensitivitas seks," ujar Dr Pedram Salimpour, salah seorang peneliti, seperti dilansir dari Guardian, Jumat (27/8/2010).

Menurut Dr Salimpour, pengaruh negatif rokok pada penis sama halnya dengan pengaruh rokok pada hati. Ini merupakan kerusakan pembuluh darah, yang membuat aliran darah terhambat.

Pada dasarnya ini merupakan efek elastin, yaitu protein jaringan ikat yang elastis dan memungkinkan jaringan dalam tubuh untuk kembali ke bentuk semula setelah mengalami peregangan atau kontraksi. Dalam hal ini, elastin mempengaruhi kemampuan ereksi penis.

Dr Salimpour menjelaskan, elastin seperti karet yang bisa meregang. Inilah yang terjadi pada penis sebagai akibat adanya peningkatan aliran darah.

Merokok dapat merusak kemampuan tubuh untuk melakukan hal tersebut, sehingga bisa mempengaruhi ukuran penis dan kemampuan ereksi. Tapi peneliti belum bisa menentukan berapa banyak rokok yang bisa merusak elastin dan memperpendek ukuran penis.

"Hal ini masih memerlukan studi lebih lanjut, tapi tampaknya bahaya rokok lebih rentan terhadap penis ketimbang hati," jelas Dr Salimpour.

Menurutnya, hal ini disebabkan karena pembuluh darah yang ada di penis jauh lebih kecil daripada pembuluh darah di hati. Pembuluh darah yang ada di hati berukuran 1,5 mm, sedangkan pembuluh darah penis 1 mm lebih kecil atau tepatnya berukuran 0,5 mm.

Tak hanya perokok aktif, Dr Salimpour juga menjelaskan bahwa ada kemungkinan bahwa hal yang sama juga bisa terjadi pada para perokok pasif. Tapi hal tersebut masih membutuhkan studi lebih lanjut.

"Meski industri rokok bersikeras dengan produknya, tapi fakta-fakta ilmiah menentang semua itu," tegas Dr Salimpour.(detikHealth,27/08/2010)

Salah satu zat di dalam rokok yang diketahui berbahaya atau menimbulkan risiko kesehatan adalah nikotin. Berapa lama nikotin berada di dalam tubuh seseorang?

Selain bisa menimbulkan risiko kesehatan, nikotin yang terkandung di dalam rokok juga membuat seseorang ketergantungan (adiksi) dan melemahkan keinginan seseorang untuk berhenti merokok. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang gagal
untuk berhenti merokok.

Ketika seseorang merokok, maka nikotin akan masuk dan mulai menumpuk di dalam tubuh. Lama kelamaan seseorang akan terbiasa dengan nikotin dan jika ia tidak mendapatkan jumlah yang sama maka tubuh akan meminta lebih. Dan biasanya jumlah nikotin yang masuk akan semakin besar atau meningkat.

Seperti dikutip dari eHow, Sabtu (4/9/2010) sebagian besar nikotin yang dikonsumsi (atau sekitar 90 persen) dengan cepat dimetabolisme oleh hati dan kemudian akan dikeluarkan melalui ginjal. Jumlah sisa nikotin akan tetap berada di dalam aliran darah selama 6-8 jam setelah merokok.

Jumlah nikotin yang tetap berada di dalam sistem tubuh tergantung pada seberapa banyak nikotin yang masuk. Hal ini dipengaruhi oleh jumlah rokok yang dihisap setiap harinya. Namun tidak semua nikotin yang masuk akan dikeluarkan oleh tubuh, karena ada kemungkinan sejumlah tertentu nikotin yang tetap berada di dalam tubuh. Karena itu efek yang ditimbulkan dari nikotin membutuhkan waktu jangka panjang.

Rata-rata dalam satu batang rokok yang dihisap mengandung 1 mg nikotin yang masuk ke tubuh. Karenanya semakin banyak rokok yang dihisap dalam satu hari, maka semakin banyak pula nikotin yang masuk ke dalam tubuh.

Jika orang hanya sesekali merokok, kemungkinan nikotin akan menetap beberapa hari di dalam tubuh. Tapi jika termasuk perokok berat maka nikotin akan tetap berada di dalam aliran darah selama 30 hari setelah merokok. Hal tersebut terjadi jika seseorang berhenti merokok sama sekali setelahnya.

Jika dilihat dari jumlah rokok yang dikonsumsi, maka tingkatan kadar nikotin di dalam sistem tubuh manuisa terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu:

Perokok ringan. Yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah orang yang hanya sekali kali saja merokoknya, sehingga kemungkinan nikotin masih akan terdeteksi hingga 2-3 hari setelah merokok. Semakin lama jangka waktu seseorang berhenti merokok, maka akan semakin sedikit jumlah nikotin yang terdeteksi.
Perokok sedang. Yang termasuk kelompok ini adalah orang yang merokok secara tidak beraturan, mungkin sekali atau hanya dua kali dalam seminggu. Jumlah nikotin yang terdeteksi kemungkinan sedikit lebih tinggi dibandingkan pengguna ringan.
Perokok berat. Yang termasuk kelompok ini adalah orang yang merokok secara teratur atau sudah masuk ke dalam kategori kecanduan. Jumlah nikotin yang terdeteksi tinggi karena hampir setiap hari menerima asupan nikotin baru yang masuk ke dalam tubuh.

Kadar nikotin ini bisa dideteksi melalui pemeriksaan urine, tapi zat ini hanya bisa terdeteksi dalam waktu 3-4 hari saja atau pada perokok berat dalam waktu 10-20 hari. Untuk pemeriksaan yang lebih sensitif melalui pengujian folikel rambut, pemeriksaan ini bisa mendeteksi kadar nikotin dan juga obat-obatan terlarang namun harganya akan lebih mahal.

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi kadar nikotin di dalam tubuh adalah dengan mengonsumsi air yang cukup dan berolahraga. Dengan mengonsumsi air yang cukup akan membantu mempercepat proses pembersihan tubuh. Sedangkan olahraga yang dilakukakn berguna untuk membantu mempercepat proses metabolisme tubuh.(detikHealth,04/09/2010)

Sebagian besar masyarakat tahu bahwa rokok bisa merusak kesehatan tubuh. Tapi ternyata rokok juga bisa mempengaruhi kondisi kulit seseorang sehingga menimbulkan jerawat yang dikenal dengan 'smoking acne'.

Beberapa peneliti memang telah mempercayai fakta tersebut. Peneliti dari San Gallicano Dermatological Institute di Roma, Italia menuturkan bahwa rokok bisa menyebabkan jerawat, khususnya jerawat yang tidak meradang (non-inflamed) dan juga komedo akibat pori-pori yang tersumbat.

Seperti dikutip dari Acne.about.com, Senin (25/10/2010) berdasarkan penelitian, sekitar 42 persen perokok menderita jerawat sedangkan kelompok non-perokok hanya sebesar 10 persen saja. Dan perokok memiliki risiko yang lebih tinggi terkena jerawat yang tidak meradang. Dalam penelitian ini juga diketahui tiga perempat dari partisipan perempuan yang merokok memiliki jerawat.

Meski demikian jumlah rokok yang dihisap tidak berpengaruh terhadap tingkat keparahan jerawat. Tapi jika seorang perempuan pernah mengalami jerawat di masa remajanya, kelompok ini memiliki kemungkinan empat kali lebih tinggi terkena jerawat saat dewasa.

Sedangkan partisipan non-perokok yang memiliki jerawat tidak meradang sebagian besar dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti sering terkena uap atau terus menerus terpapar asap rokok.

Merokok memang bisa membahayakan kesehatan kulit, karena bisa menyempitkan pembuluh darah dan merusak permukaan tubuh yaitu sel-sel di kulit yang merupakan pertahanan baris pertama dari perlindungan tubuh. Kondisi ini juga bisa memicu penyumbatan dari pori-pori kulit yang menyebabkan timbulnya komedo yang berujung munculnya jerawat.

Selain itu merokok juga bisa mengganggu penampilan kulit, seperti kulit keriput dan juga penuaan dini. Hal ini karena rokok dapat menciptakan radikal bebas, merusak produksi kolagen serta merusak protein kulit pada usia berapa pun. Karenanya salah satu cara pencegahan penuaan dini adalah dengan berhenti atau menghindari asap rokok.
(detik Health,24/10/2010).

Analis atas 27 otak para pengguna zat adiktif kokain telah membuat tim ahli pimpinan Dr. Hans C. Breiter dari Massachusetts General Hospital Boston (AS) berkesimpulan bahwa volume otak pengguna zat adiktif kokain berukuran sangat kecil dan itu berdampak pada aktifitas pengguna zat adiktif.
Hasil penelitian dari Boston itu sekaligus memperjelas bagaimana seseorang mengalami ketidakberuntungan jika sudah bersentuhan dengan zat adiktif. Volume otak ke-27 pengguna za adiktif kokain itu dibandingkan dengan volume otak 27 orang yang sehat dan tidak pernah menyentuh kokain.
Hasilnya volume otak dan struktur yang disebut dengan `amygdala` pada 27 pengguna zat adiktif lebih kecil dibandingkan dengan ukuran yang normal. Meski belum secara jelas bagaimana penyusutan terjadi namun kecilnya ukuran `amygdala` kemungkinan besar akibat penggunaan zat adiktif seperi kokain.
`Amygdala` sendiri seperti sebuah kumpulan kecil syaraf pada otak yang juga berpengaruh pada proses terbentuknya emosi. Kecilnya ukuran otak dan berpengaruh pada emosi membuat hasil negatif pada aksi pengguna zat adiktif. Hasil penelitian Dr Breiter itu dipublikasikan melalui the journal Neuron, meski Dr Breiter tidak bisa menjawab pertanyaan bagaimana volume amygdala yang kecil merupakan dampak dari kontribusi penggunaan zat adiktif.
Breiter memberikan penjelasan singkat bahwa volume amygdala pada orang normal akan berkembang lebih besar pada sisi kiri otak dan pada pengguna zat adiktif keseimbangan ukuran itu menjadi tidak simetris. Dalam waktu singkat penggunaan zat adiktif akan membuat proses degerasi pertumbuhan otak.
Dalam waktu panjang, penggunaan zat adiktif akan membuat ketidaknormalan pada aksi kehidupan sehari-hari. Dr Breiter menggunakan `magnetic resonance imaging (MRI)` untuk melakukan pengindraan atas 27 pengguna zat adiktif sehingga bisa menghasilkan gambar ukuran volume otak.
Pada pengguna zat adiktif ukuran amygdalas rata-rata 13 persen lebih kecil dari rata pada otak kiri dan 23 persen lebih kecil pada rata-rata volume otak pada sebelah kanan. (kapanlagi.com)