twitter
rss

Tampilkan postingan dengan label Medical. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Medical. Tampilkan semua postingan

Penyakit diabetes merupakan penyakit kronik yang bersifat progresif dan bisa menyebabkan komplikasi pada berbagai organ tubuh. Komplikasi kaki diabetik merupakan salah satu komplikasi yang menakutkan dan bisa menyebabkan kematian.
Data menunjukkan, sepertiga pasien diabetes akan mengalami masalah pada kaki. Menurut staf Divisi Metabolik Endokrin Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM Prof.Sarwono Waspadji, komplikasi kaki diabetik terjadi karena kadar gula darah dibiarkan tinggi bertahun-tahun sehingga menyebabkan kerusakan saraf dan gangguan pembuluh darah.
"Saraf yang sudah rusak membuat pasien diabetes tidak bisa merasakan sensasi panas dan sakit pada kaki," katanya dalam acara media edukasi bertajuk Jangan Abaikan Kelainan Kaki Diabetik, Lakukan Deteksi Dini, di Jakarta (2/11/11).
Akibat menurunnya kepekaan saraf kaki, pasien diabetes menjadi rentan terhadap luka. "Luka yang tadinya kecil juga bisa berkembang menjadi borok dan infeksinya menyebar sehingga harus diamputasi," imbuhnya.
Untuk itu, pasien diabetes harus menjaga kadar gula darahnya tetap normal dan melakukan deteksi dini. "Kadar gula darah yang tinggi merupakan makanan bagi kuman yang bisa menyebabkan infeksi bertambah buruk," kata dr.Em Yunir, Sp.PD, dalam kesempatan yang sama.
Ia menjelaskan, secara umum ada 5 pilar penanganan kaki diabetik untuk mencegah risiko amputasi. 

1. Lakukan pemeriksaan kaki secara rutin
Pemeriksaan ini bisa dilakukan pasien sendiri, perawat, atau dokter. "Waspadai jika ada penonjolan tulang, telapak kaki mendatar, atau jari bengkok. Pasien juga setiap saat harus melihat kakinya apakah ada luka," kata Em Yunir.
2. Identifikasi faktor risiko
Dokter akan melakukan pemeriksaan pada pasien untuk mengetahui apakah pasien beresiko tinggi menderita luka diabetik. Pemeriksaan meliputi mengetahui riwayat luka, apakah sudah menderita diabetes lebih dari 10 tahun, riwayat kadar gula darah, ada tidaknya gangguan penglihatan, dan lain sebagainya.
3. Edukasi
Memberikan eduksi kepada pasien mengenai pentingnya menjaga kadar gula darah dan perawatan kaki.
4. Penggunaan sepatu khusus sesuai bentuk telapak kaki
"Penderita diabetes dengan neuropati sering mengalami perubahan tekanan pada kaki, sehingga jangan memaksakan memakai sepatu di pasaran," kata Yunir.
5. Perawatan sebelum luka
Pasien akan diajari untuk merawat kaki secara teratur untuk menjaga kelembaban kaki serta tidak sembarangan mengobati luka sendiri.


A. DEFINISI
Cedera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang disertai atau tanpa disertai perdarahan interstitiel dalam substansi otak tanpa diikuti terputusnya kontinuitas otak.
Cedera kepala terbuka berarti kulit mengalami laserasi sampai pada merusak tulang tengkorak, sedangkan pada cedera kepala tertutup dapat disamakan dengan gegar otak ringan dengan disertai edema serebral.
Kup dan kontra kup menggambarkan lokasi kerusakan internal otak sebagai akibat dari proses benturan. Kontra kup adalah kerusakan yang terjadi berlawanan dengan daerah benturan. Ini merupakan akibat dari daya atau kekuatan benturan yang berjalan sepanjang jaringan otak dan karenanya berat ringannya tergantung dari kekuatan benturan tersebut.

Berdasarkan GCS (Glasgow Coma Scale), cedera kepala digolongkan kedalam :
  1. Cedera kepala ringan :
    Jika GCS antara 13-15, dapat terjadi kehilangan kesadaran kurang dari 30 menit tetapi ada yang menyebut kurang dari 2 jam, jika ada penyerta seperti fraktur tengkorak, kontosio atau hematum (sekitar 55 %).
  2. Cedera kepala sedang :
    Jika GSC antara 9-12, hilang kesadaran atau amnesia antara 30 menit – 24 jam, dapat mengalami fraktur tengkorak, disorientasi ringan (bingung)
  3. Cedera kepala berat :
    Jika GCS antara 3-8, hilang kesadaran lebih dari 24 jam, juga meliputi kontosio serebral, laserasi atau adanya hematum atau edema.

B. MANIFESTASI CEDERA

  1. Fraktur Tengkorak
                    Susunan tulang tengkorak dan lapisan kulit kepala membantu menghilangkan tenaga benturan kepala sehingga sedikit kekuatan yang ditransmisikan kedalam jaringan otak.
                    Ada dua bentuk umum dari fraktur yaitu fraktur garis (linear) umum terjadi disebabkan oleh pemberian kekuatan yang amat berlebih terhadap luas area tengkorak tertentu dan fraktur tengkorak seperti bagian tulang frontal / temporal.
  2. Gegar otak
    merupakan sinfrom yang melibatkan bentuk cedera otak ringan yang menyebar. Gangguan neurologis sementara dan dapat pulih tenpa ada kehilangan kesadaran. Mungkin mengalami disorientasi ringan, pusing, gangguan memori sementara, kurang konsentrasi, mungkin juga mengalami amnesia retrogate.
  3. Kontosio
    Menggambarkan area otak yang mengalami memar. Memar umumnya pada permukaan yang disertai dengan hemoragik kecil-kecil pada substansi otak. Gejala bervariasi tergantug lokasi dan derajat. Dapat menimbulkan edema serebral 2-3 hari post trauma. Akibatnya dapat menimbulkan peningkatan TIK (tekanan intra kranial) dan meningkatkan mortalitas (45%)
  4. Hematum Epidural
    perdarahan yang terjadi pada ruang epidural yaitu antara tulang tengkorak dan lapisan durameter. Ini terjadi karena adanya robekan cabang kecil arteri meningeal media / meningeal frontal
  5. Hematum Subdural
    perdarahan yang terjadi pada ruang subdural antara lapisan durameter dan lapisan arachnoid, terjadi sebagai akibat robekan vena yang ditemukan pada ruang ini
  6. Hematum Subarachnoid
    Perdarahan yang terjadi pada ruang arachnoid yaitu antara lapisan arachnoid dengan piameter. Seringkali terjadi karena adanya vena yang ada di daerah tersebut.
  7. Hematum Intracerebral
    penggumpalan darah 25 ml atau lebih pada parenkim otak. Penyebabnya seringkali karena adanya infresi fraktur, gerakan akselerasi dan deselerasi yang tiba-tiba.

    C. POTENSI KOMPLIKASI
    ada beberapa komplikasi yang dapat terjadi setelah cedera kepala :
    1. Kejang
    2. Bocornya cairan serebrospinal
    3. Hipertermia
    4. Masalah Mobilisasi
    5. Infeksi
    6. Hipovolemik

D. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
beberapa jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain : CT scan, foto tengkorak, MRI, AGD (Analisa Gas Darah) untuk mengetahui adanya masalah ventilasi atau oksigenasi yang akan dapat meningkatkan TIK. Kadar kimia/elektrolit darah : mengetahui ketidakseimbangan yang berperan dalam meningkatkan TIK.  

A.      DEFINISI
Merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dan ditularkan oleh unggas . Strain yang sangat virulen/ganas dan menyebabkan flu burung adalah dari subtipe A  H5N1. Virus tersebut dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 22°C dan lebih dari 30 hari pada 0°C. Virus akan mati pada pemanasan 60°C selama 30 menit atau 56°C selama 3 jam dan dengan detergent, desinfektan misalnya formalin, serta cairan yang mengandung iodine. (litbang depkes RI)

B.      TANDA DAN GEJALA
Gejala flu burung menurut litbang depkes RI meliputi :  
1)      Gejala pada unggas : Jengger berwarna biru, borok  dikaki, kematian  mendadak
2)      Gejala pada manusia : Demam (suhu badan  diatas 38° C), batuk dan nyeri  tenggorokan, radang saluran pernapasan  atas, pneumonia, Infeksi   mata, nyeri  otot.
Pendapat senada dikemukakan CDC, tanda dan gejala avian influenza pada manusia berkisar dari infeksi mata (konjungtivitis) dengan gejala penyakit influenza seperti (misalnya, demam, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot) untuk penyakit pernafasan parah (misalnya pneumonia, gangguan pernapasan akut, virus pneumonia) kadang-kadang disertai mual, muntah diare, dan perubahan neurologis.
Panas lebih dari 38 derajat celcius, batuk, dan sakit tenggorokan. Pasien seperti ini oleh WHO disebut Possible case of Influenza A (H5N1).Keadaan itu dapat menjadi semakin berat jika timbul pneumonia disertai sesak nafas (radang paru) dan menyebabkan angka kematian yang tinggi  (www.infeksi.com).
Masa inkubasinya sangat singkat 1-3 hari, Meskipun belum terbukti adanya penularan dari manusia ke manusia , masa infeksiusnya (masa dimana penderita Avian Flu H5N1 diperkirakan mampu menularkan virus) adalah 1 hari sebelum tampak gejalanya dan 3-5 hari setelah tampak gejalanya dengan maksimum 7 hari 

C.      PENULARAN
1.       Langsung
Penularan terjadi pada kontak langsung dari kulit pasien ke kulit pejamu rentan lain, dalam hal ini petugas kesehatan pada saat memandikan pasien atau melaksanakan tindakan keperawatan yang lain.
2.       Secara tidak langsung dengan melibatkan benda perantara, yang biasanya benda mati seperti alat kesehatan, jarum, kasa pembalut, tangan yang tidak dicuci, sarung tangan bekas.
Droplet:
Meskipun secara teori penularan droplet atau melalui percikan merupakan bentuk lain dari penularan secara kontak, namun mekanisme perpindahan kuman patogen dari pejamunya sangat berbeda dengan sebagaimana kontak langsung maupun tidak langsung. Percikan dihasilkan oleh pejamu (yang berdiameter >5mm) melalui batuk, bersin, bicara dan selama pelaksanaan tindakan tertentu seperti penghisapan lendir dan bronkoskopi. Percikan yang berasal dari pejamu tersebut terbang dalam jerak dekat melalui udara dan mengendap di bagian tubuh pejamu lain yang rentan seperti: konjungtiva, mukosa hidung, atau mulut.
Hingga sejauh ini penularan yang terjadi adalah dari burung/unggas/ayam yang terjangkit Flu-Burung ke manusia melalui kotoran atau sekreta burung yang mencemari udara dan tangan penjamah. (www.infeksi.com).

D.      PENCEGAHAN
Menurut litbang depkes, pencegahan flu burung meliputi pencegahan pada unggas serta pada manusia.
1.       Pada Unggas : Pemusnahan unggas/burung yang terinfeksi flu burung  serta Vaksinasi pada unggas yang sehat
2.       Pada Manusia :
a)      Kelompok berisiko tinggi ( pekerja peternakan dan pedagang).
ü  Mencuci tangan dengan desinfektan dan mandi sehabis bekerja.
ü  Hindari kontak langsung dengan ayam atau unggas yang terinsfeksi flu burung.
ü  Menggunakan alat pelindung diri. (contoh : masker dan pakaian kerja).
ü  Meninggalkan pakaian kerja ditempat kerja. 
ü  Membersihkan kotoran unggas setiap hari.
ü  Imunisasi.
Rekomendasi sementara untuk pencegahan bagi mereka yang terlibat dalam peternakan/penyembelihan unggas/burung/ayam secara masal terutama di daerah terjangkit yang dikeluarkan oleh WHO/WPRO Manila 14 Januari 2004 adalah sebagai berikut :
1.       Basuh tangan sesering mungkin, penjamah sebaiknya juga melakukan disinfeksi tangan (dapat dengan alcohol 70%, atau larutan pemutih/khlorin 0,5%untuk alat2/instrumen)
2.       Gunakan alat pelindung perorangan seperti masker, sarung tangan, kaca mata pelindung, sepatu pelindung dan baju pelindung pada waktu melaksanakan tugas dipeternakan yang terjangkit atau di laboratorium
3.       Mereka yang terpajan dengan unggas/burung/ayam yang diduga terjangkit sebaiknya dilakukan vaksinasi dengan vaksin influenza manusia yang dianjurkan oleh WHO dalam rangka mencegah infeksi campuran Flu-Manusia dengan Flu-Burung , yang kemungkinan dapat menyebabkan jenis virus Flu-Burung baru yang dapat menginfeksi manusia.
4.       Lakukan pengamatan pasif terhadap kesehatan mereka yang terpajan dan keluarganya. Perhatikan keluhan-keluhan seperti Flu, radang mata, keluhan pernafasan). Orang berisiko tinggi terkena influenza yaitu mereka yang berusia lebih 60 tahun , atau berpenyakit paru dan jantung kronis tidak boleh bekerja di peternakan unggas/burung/ayam.
5.       Lakukan survei serologis pada mereka yang terpajan termasuk kepada dokter-hewan
6.       Jika terdapat risiko untuk menghirup udara yang tercemar di peternakan /tempat penyembelihan yang terjangkit , diajurkan pencegahan dengan obat antiviral (antara lain dengan Oseltamivir 75 mg dalam kapsul , 1 kali sehari selama 7 hari).
7.       Pemeriksaan laboratorium untuk memastikan dan mengisolasi virus penyebabnya : Kirimkan spesimen darah dan alat-alat dalam (usus, hati, hapusan hidung dan mulut, trachea, paru, limpa, ginjal, otak dan jantung) binatang yang diduga terjangkit penyakit itu (termasuk babi) ke laboratorium yang berwenang.

Pencegahan bagi tenaga kesehatan (www.infeksi.com) :
1)      Memperlakukan semua darah dan cairan tubuh sebagai bahan infeksius, hindari menjamahnya dengan tangan telanjang atau segera cuci bila mungkin tercemar
2)      Cuci tangan (dengan air mengalir dan sabun/antiseptik, gosok selama 10 detik, dan lap kering) sebagai tindakan rutin: sebelum dan setelah menjamah pasien, sebelum memakai dan setelah melepas sarung tangan
3)      Kenakan masker, penutup kepala, kaca mata pelindung, sarung tangan, gaun pelindung, sepatu pelindung, ketika memasuki ruang pasien. Selama melaksanakan tindakan, ganti sarung tangan setelah menjamah bahan infeksius. Gaun pelindung (tidak perlu steril), pilih yang sesuai dengan tindakan yang akan dilaksanakan (kedap air atau tidak). Lepas gaun sebelum meninggalkan ruangan dan pastikan baju kerja tidak terkontaminasi.
Lepas sarung tangan sebelum keluar ruangan dan cuci tangan segera dengan antiseptik dan pastikan setelahnya tidak lagi menjamah permukaan di ruang pasien yang mungkin tercemar.
4)      Pasien ditempatkan dalam ruang tersendiri. Bila tidak tersedia ruang tersendiri dapat ditempatkan bersama pasien dengan diagnosis yang sama. 
5)      Batasi pemindahan pasien ke ruang lain kecuali sangat diperlukan. Bila terpaksa,kenakan masker pada pasien dan selimut bersih rapat, pastikan kewaspadaan universal tetap terjaga untuk menekan risiko penyebaran mikroorganisme ke pasien lain dan pencemaran permukaan lingkungan atau peralatan lain.
6)      Bila mungkin alokasikan alat kesehatan khusus untuk pasien tersebut atau bersama dengan pasien sejenis untuk menghindari penyebaran antar pasien. Bila menggunakan alat untuk pasien umum, maka perlu pembersihan yang memadai dan disinfeksi sebelum dipakai untuk pasien lain.

b)      Masyarakat umum
ü  Menjaga daya tahan tubuh dengan memakan makanan bergizi & istirahat cukup.
ü  Mengolah unggas dengan cara yang benar, yaitu :
·         Pilih unggas yang sehat (tidak terdapat gejala-gejala penyakit pada tubuhnya)
·         Memasak daging ayam sampai dengan suhu ± 80°C  selama 1 menit dan pada telur sampai dengan suhu ±  64°C selama 4,5 menit.

E.       PENATALAKSANAAN (Kepmenkes RI no 155 tahun 2007)
1.    Pengobatan antiviral, diberikan secepat mungkin (48 jam pertama)
o   Dewasa atau anak-anak ≥ 13 tahun diberikan Oseltamivir 2x75 mg / hr selama 5 hari
o   Anak ≥ 1 tahun dosis oseltamivir 2 mg/kg BB  2x sehari selama 5 hari
2.     Prophylaxis
1x75 mg diberikan pada kelompok resiko tinggi terpajan sampai 7-10 hari dari pajanan terakhir. Penggunaan prophylaxis jangka panjang dapat diberikan maximal hingga 6-8 minggu.
Pengobatan lain meliputi :
1)      Antibiotik spektrum luas yang mencakup kuman atipikal dan tipikal
2)      Methylprednisolon 1-2 mg/kg BB IV diberikan pada pneumonia berat, ARDS atau pada syok sepsis yang tidak respons terhadap obat vasopresor
3)      Terapi lain, terapi symtomatik, vitamin



F.       REFERENSI
Kepmenkes RI no 155 / MENKES /SK /II/ 2007 Tentang Pedoman Pelaksanaan Penderita Flu Burung di Rumah Sakit

Demikian informasi yang saya peroleh tentang flu burung / avian flu / H5N1, semoga bermanfaat dan salam sukses 

A.    Pengertian
Konjungtivitis adalah inflamasi dari konjungtiva dan ditandai dengan pembengkakan dan eksudat (Brunner & Suddarth, 2002). Pendapat lain menyatakan bahwa konjungtivitis merupakan suatu peradangan konjungtiva yang disebabkan bakteri, virus, jamur, chlamidia, alergi atau iritasi dengan bahan-bahan kimia (RSUD Dr.Soetomo, 1994)
Nettina (2001) konjungtivitis adalah inflamasi atau infeksi konjungtiva, membran anterior kelopak mata.

B.    Anatomi
Darling (1996), konjungtiva adalah membran mukosa (selaput lendir) yang melapisi keopak dan melipat ke bola mata untuk melapisi bagian depan bola mata sampai limbus, dimana konjungtiva berbatasan dengan lapisan supervisial kornea.
Konjungtiva yang melapisi kelopak mata yaitu konjungtiva palpebrae sangat vaskuler (banyak mengandung pembuluh darah). Konjungtiva ini lebih tebal daripada konjungtiva bulbi yang menutupi bagian depan bola mata sampai tepi kornea. Sclera dapat dilihat lewat konjungtiva bulbi.
Konjungtiva palpebrae dan konjungtiva bulbi dipisahkan oleh ruang potensial, yaitu sakus konjungtiva, yang dibentuk oleh refleksi (pembalikan) konjungtiva diatas permukaan dalam palpebra dan sclera.
Konjungtiva memberikan perlindungan kepada sclera dibawahnya dan memberikan pelumasan kepada bola mata yang diperankan oleh glandula mukosa dan serosa. Artena papebralis menyediakan darah kulit kelopak mata dan arteri oftalmika dan fasialis menyediakan darah ke seluruh palpebra dan konjungtiva.

C.    Etiologi
Etiologi konjungtivitis menurut Voughan (2000) adalah
1.       Bakterial
a.       Hiperakut (purulen) : Neisseria Gonnorhoea, N. Meningitis, N.Gonorrhoea sub kochii
b.      Akut (Mukupurulen): Pneumokokkus / Strept Pneumoniae, Haemophillus Aegyptius (iklim tropik)
c.       Subakut : Haemophillus Influenzae (iklim sedang)
d.      Menahun : Staphilococcus aureus, Maxella Lacunata
e.      Lain-lain : Streptococci, Calliform, Corynebact.Diptheriae, M. Tuberculose
2.       Klamidial
a.       Trachoma (Chlamydia Trachomatitis Serotipe A-C)
b.      Konjungtivitis Inklusi (Chlamydia trachomatis Serotipe D-K)
c.       Limfogranuloma Venerum (LGV)
3.       Virus
a.       Konjungtivitis folikuler virus akut: demam faringokonjungtivitis (Adenovirus tipe 3 dan 7), kerotokonjungtivitis epidemika (Adenovirus tipe 8 dan 19), virus herpes simplex, konjungtivitis hemoragik akut (Enterovirus tipe 70)
b.      Konjungtivitis folikuler virus menahun : virus molluscum contogjosum
c.       Blefarokonjungtivitis karena virus : Varicella, herpes zoster
4.       Ricketsia
Konjungtivitis non purulen dengan hiperemia
5.       Fungal
a.       Eksudatif menahun : Candida
b.      Granulomatosa : Rhinosporidium Seeberi, Sporotix Schenckii
6.       Parasitik
Konjungtivitis dan blefarokonjungtivitis menahun : Ascaris Lumbricoides, Taenia Solium, Schistosa Haemotobium, Loa-Loa
7.       Immunologik (allergic)
a.       Reaksi hipersensitivitas segera (humoral)
b.      Reaksi hipersensitivitas tertunda (seluler)
c.       Penyakit autoimun
8.       Kimia atau iritatif
a.       Latrogenik : miotika Idoxuridine, Obat topical lain, larutan lensa kontak
b.      Berhubungan denga pekerjaan : asam, basa, asap, angin, cahaya ultra violet, bulu ulat.
9.       Etiologi yang tidak dapat diketahui
Folikulosis, Konjungtivitis folikuler menahun, psoriasis, dermatitis herpetiformis, Epidermolisis Bulosa, konjungtivitis Ligneosa.

D.      Tanda dan Gejala
·         Penglihatan kabur
·         Sakit mata
·         Terbentuk kerak pada kelopak mata pada malam hari
·         Peningkatan air mata
·         Terasa seperti ada pasir di mata
·         Gatal di mata
·         Kemerahan pada mata
·         Peka terhadap cahaya

E.     Tipe
1.       Konjungtivitis Kataral
Gambaran klinisnya adalah infeksi konjungtiva dan hiperemi konjungtiva tarsal, tanpa folikel, tanpa cobbe stone dan tanpa flikten. Pada konjungtivitis kataral berbentuk sekres serus, mukus atau mukopurulen tergantung penyebabnya.
2.       Konjungtivitis purulen, mukopurulen
Terdapat sekret purulen seperti nanah, kadang disertai massa putih di konjungtiva tarsal
3.       Konjungtivitis membran
Ditandai dengan adanya membran / selaput berupa massa putih pada konjungtiva tarsal dan kadang-kadang juga menutupi konjungtiva bulbi. Massa putih ini ada 2 jenis yaitu membran dan pseudomembran.
Konjungtivitis membran dapat disebabkan oleh infeksi streptococ hemolitik dan infeksi difteria. Konjungtivitis pseudomembran disebabkan infeksi yang hiperakut seperti infeksi pneumococ
4.       Konjungtivitis folikuler
Meliputi konjungtivitis viral, konjungtivitis klamidia, konjungtivitis folikular toksik dan konjungtivitis folikuler yang tidak diketahui penyebabnya. Tanda-tanda radang tampak menonjol pada konjungtivitis toksid lebih sering radang tidak akut.
5.       Konjungtivitis Vernal
Banyak ditemukan pada usia 5-25 tahun, gejala subjektif yang menonjol adalah rasa sangat gatal pada mata, terutama bila berada di lapangan terbuka yang panas terik. Sekret pada mata dasarnya mukoid dan menjadi mukopurulen apabila terdapat infeksi sekunder.
6.       Konjungtivitis Flikten
Sebagian besar diderita anak-anak. Gejalanya adalah flikten yang umumnya dijumpai di limbus. Selain itu, flikten juga ditemukan pada konjungtiva bulbi, konjungtiva tarsal dan kornea. Apabila flikten timbul pada kornea dan sering kambuh maka berakibat gangguan penglihatan.

F.     Pengobatan
Pengobatan spesifik tergantung dari identifikasi penyebab. Konjungtiva karena bakteri dapat diobati dengan sulfonamide (Sulfetamide 15%), atau antibiotika (Gentamycin 0,3 %, Chloramphenicol 0,5%).
Konjungtiva karena jamur sangat jarang, sedangkan konjungtiva karena virus pengobatannya terutama ditujukan untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder (antibiotika)
Konjungtiva karena alergi diobati dengan anti histamine (Antazoline 0,5%, Naphazoline 0,05%) atau kortikosteroid (misal Dexamethasone 0,1%) (RSUD Dr.Soetomo, 1994).
Pendapat senada dikemukakan “American Optometric Association” yang menyatakan bahwa pengobatan konjungtivitis disesuaikan dengan penyebabnya :
1)      Konjungtivitis Alergi
Penderita perlu menghindari / menghilangkan allergen. Kompress dingin dan air mata buatan kadang meringankan ketidaknyamanan pada kasus-kasus ringan. Jika lebih parah, perlu diobati dengan obat non steroid anti inflamasi dan anti histamine. Pada kasus allergic konjungtivitis persistent penderita mungkin perlu pengobatan tetes mata steroid
2)      Konjungtivitis Bakteri
Biasanya diobati dengan salep / tetes mata antibiotik. Perbaikan biasanya terjadi setelah 3-4 hari pengobatan. Dosis yang tepat perlu diperhatikan untuk mencegah kekambuhan
3)      Viral Konjungtivitis
Antibiotik tidak akan menyembuhkan infeksi virus. Gejala biasanya dapat berkurang dengan pemberian kompress dingin dan tetes air mata buatan. Untuk kasus yang parah, topical steroid diperlukan untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat radang tetapi tidak memperpendek lama infeksi.
4)      Konjungtivitis Kimia
Pengobatan untuk konjungtivitas kimia memerlukan pembalasan mata dengan saline dan topical steroid. Luka kimia misal karena alkali merupakan tindakan  gawat darurat karena dapat menyebabkan kerusakan intraokuler, bahkan kehilangan mata

G.     Komplikasi
1.       Stapilokokus Blefarokonjungtivitis, Gonokok menyebabkan perforasi kornea, dan endoftalmitis dan meningokok dapat menyebabkan septicemia atau meningitis
2.       Keratitis
3.       Virus Herpetik dapat menyebabkan parut pada kelopak, neurargia, katarak, glaucoma, kelumpuhan syaraf III, IV, atrofi saraf optic dan kebutaan.
4.       Ulkus kornea, infeksi sekunder oleh bakteri, parut kornea dan neovaskularisasi kornea

H.     Pencegahan
1.       Hindari zat allergen termasuk lensa kontak
2.       Hindari menyentuh mata yang sehat dan Cuci tangan setelah menyentuh mata yang sakit
3.       Hindari penggunaan lap/handuk bersama-sama termasuk berbagi bantal
4.       Ganti sarung bantal dengan yang bersih secara teratur
5.       Mencuci tangan sesering mungkin setelah jabat tangan, berpegangan dengan penderita konjungtivitis


Referensi :
Brunner dan Suddarth, 2000. Buku Saku Kperawatan Medikal Bedah, terjemahan, EGC, Jakarta
Nettina, S.M, 2002, Pedoman Praktek Keperawatan, EGC, Jakarta
RSUD Dokter Soetomo, 1994, Pedoman Diagnosis dan Terapi, Lap/UPF Ilmu Bedah, FKU Airlangga, Surabaya
Vaughan, D.G.,Asburyt.,Eva, P.R.,2000, Oftalmologi Umum, Widya Medika, Jakarta

A.      Pengertian
Rheumatoid arthritis merupakan salah satu dan kelompok penyakit jaringan penyambung difus yang diperantarai oeh imunitas, yang biasanya terjadi destruksi sendi progresif dan dapat mengalami masa remisi (Price dan Wilson, 1995).
Engram (1998) menyebutkan bahwa rheumatoid arthritis merupakan penyakit jaringan penyambung yang bersifat kronis dan sistemik. Dikarakteristikkan oleh inflamasi dari membran sinovial sendi diarthrodial yang ditandai oleh adanya periode remisi dan eksaserbasi.
Klasifikasi penyakit rheumatoid :
1.       Penyakit jaringan ikat yang difus
Arthritis rheumatoid, arthritis juvenilis, lupus eritematosis (diskoid, sistemik)
Skleroderma (lokalisatsa, skerosis sistemik)
Polimiositis (Dermatomiositis)
Sindrom Sjogern
Sindrom Oerlap (penyakit jaringan ikat campuran)
2.       Arthritis yang disertai spondilitis (spondiloartropati)
Ankilosing spondilitis, sindrom goiter, arthritis psoriatic, arthritis yang disertai penyakit usus inflamatori
3.       Osteoartritis
Primer maupun sekunder
4.       Sindrom rematik yang berkaitan dengan unsur infeksius
Langsung / direct (bacterial, viral, fungal, parasitic)
Reaktif (bacterial, viral, pasca imunisasi)
5.       Kelainan metabolic dan endokrin yang disertai keadaan rematik
Keadaan yang berkaitan dengan pembentukan kristal (gout, pseudogout)
Abnormalitas biokimia (amiodosis, hemophilia)
Penyakit endokrin (DM, akromegali)
Penyakit herediter (sindrom hipermobilitas)
6.       Neoplasma
Primer maupun sekunder (metastatid, multiple mielama, leukemia)
7.       Kelainan neuromuskuler
Sendi charvot, sindrom kompresi (carpal tunnel syndrom, radikulopak,stenosis spinalis), distrofi reflek simpatetik serta penyakit Reynaud
8.       Kelainan penyakit tulang, periosteum dan kartilago
Ateroporosis, osteoartroati hepertrofik, hiperostasis skeletal idiopatik difusa, penyakit paget pada tulang.
9.       Kelaianan ekstra-arthikular
Lesi jukita artikularis,nyeri punggung bawah, kelainan diskur intervaterbralu, sindrom nyeri regional (metatarsalgia, nyeri servical)
10.   Kelainan lainnya yang disertai manifestasi artikuler
Reumatisise polindromik, hidraartrosis intermitten, sarkoidasis, hepatitis aktif kronik

B.      Etiologi
Menurut Pusdiknakes (1995) berdasarkan beberapa hipotesis menunjukkan bahwa rheumatoid arthritis dipengaruhi oleh faktor sebagai berikut :
1.       Mekanisme imun (antigen-antibody), seperti interaksi antara Ig G dan rheumatoid faktor.
2.       Gangguan metabolisme
3.       Proses infeksi (mycoplasma dan virus)
4.       Genetik
Menurut Lewis dkk (2000) ada beberapa faktor yang menyebabkan rheumatoid arthritis yaitu
1)      Infeksi
Kemungkinan disebabkan oleh mikrobakterium yang spesifik penyebab infeksi seperti virus Ebstein_Barr, parvovirus dan mikrobakteria
2)      Mekanisme imun
Dikarakterisasi dengan munculnya gangguan pada Ig G dalam autoantibody
3)      Faktor genetik
4)      Faktor lain
Gangguan metabolic dan biokimia, nutrisi, lingkungan, pekerjaan dan pengaruh psikososial

C.      Tanda dan Gejala
Menurut Price dan Wilson (1995) tanda dan gejala yang mungkin muncul pada penderita rheumatoid arthritis adalah
1.       Gejala-gejala konstitusional
Misalnya anoreksia, berat badan menurun, demam, kekuatan berkurang
2.       Poliartritis Simetris
Terutama pada sendi perifer, termasuk sendi-sendi ditangan namun biasanya tidak melibatkan sendi-sendi interphalangs distal
3.       Kekakuan di pagi hari lebih dari 1 jam
4.       Arthritis Erosive
Merupakan ciri khas penyakit ini pada gambaran radiologic. Peradangan sendi yang kronis mengakibatkan erosi di tepi sendi dan pengurangan densitas tulang. Ini dapat dilihat pada radiogram.
5.       Deformitas
Kerusakan dari struktur penunjang sendi dengan perjalanan penyakit. Deformitas tangan yang sering terjadi adalah pergeseran ulnar dan sublukasi sendi metakarpofalangeal. Pada kalus dapat terjadi prokusi kapus metatarsal yang timbul sekunder dari sublukasi metatarsal. Sendi yang besar dapat terserang sehingga mengalami pengurangan kemampuan bergerak terutama dalam gerakan ekstensi
6.       Nodula-nodula
Ditemukan pada sekitar 1/3 orang dewasa penderita rheumatoid arthritis
7.       Manifestasi ekstra-artikular, rheumatoid arthritis juga dapat menyerang organ organ diluar sendi, seperti jantung (pericarditis), Paru-paru (pleuritis), mata dan pembuluh darah.

D.      Patofisiologi
Pada sendi sinovial yang normal kartilagoartikuler membungkus ujung tulang pada sendi dan menghasilkan permukaan yang licin serta ulet untuk gerakan. Memberan sinovial melapisi dinding dalam kapsula fibrosa dan mensekresikan cairan kedalam ruangan antar tulang. Cairan sinovial berfungsi sebagai peredam kejut (shock absorber) dan pelumas yang memungkinkan sendi untuk bergerak secara bebas dalam arah yang tepat. Inflamasi merupakan proses sekunder yang timbul akibat pembentukan pannus (proliferasi jaringan sinovial). Sinovitis berhubungan dengan pelepasan proteoglikan.
Pada rheumatoid terjadi 2 proses yang dapat saling mendahului maupun bersamaan.
1)      Proses Inflamasi
Tahapnya meliputi :
a)      Stimulus antigen mengaktifkan monosit dan limfosit T (sel T). antibody immunoglobulin membentuk kompleks imun dengan antign. Fagositosis kompleks imun dimulai dan menghasilkan reaksi inflamasi (pembengkakan, nyeri, oedema pada sendi)
b)      Fagositosis akan menghasilkan zat kimia seperti leukotrien yang dapat menarik leukosit lainnya ke daerah inflamasi dan prostaglandin bertindak sebagai modifier inflamasi. Leukotrien dan prostaglandin menghasilkan enzim kolagenase (memecah kolagen) sehingga menimbulkan edema.
c)       Proses inflamasi imunologik dimulai dengan disampaikannya antigen pada sel T kemudian proligerasi sel T dan β. Sel β merupakan sumber bagi sel-sel pembentuk antibody / sel plasma. Sebagai reaksi terhadap antigen yang spesifik, sel plasma memproduksi dan melepas antibody. Antibody mengikat antigen untuk membentuk pasangan/kompleks imun. Kompleks imun terbentuk dan tertimbun dalam jaringan sinovial atau organ lain dan memicu reaksi inflamasi.
2)      Degenerasi
Degenerasi kartilago artikuler disebabkan gangguan keseimbangan fisiologis antara stress mekanis dan kemampuan jaringan sendi untuk bertahan terhadap stress.
Peran kartilago artikuler adalah
ü  Memberikan permukaan penahan beban yang licin secara nyata bersama cairan sinovial membuat gesekan yang sangat rendah dalam gerakan
ü  Kartilago meneruskan tekanan sehingga mengurangi stress mekanis
Penyebab terjadinya dengenerasi kartilago artikuler adalah
a)      Stress mekanis
Jika digunakan untuk beraktifitas secara terus menerus menyebabkan elastisitas kapsula sendi, kartilago artikuler dan ligamentum berkurang.
b)      Perubahan pelumasan
Bersama dengan beban sendi, pelumasan bergantung pada lapisan tipis cairan interstisial yang terpecah dari kartilago ketika terjadi kompresi antar permukaan sendi yang berlawanan.
c)       Imobilitas
Terjadi akibat gangguan kerja pemompaan lubrikasi yang terjadi pada gerakan sendi.

E.       Penatalaksanaan
Price dan Wilson (1995) mengemukakan tujuan program perawatan dan pengobatan rheumatoid arthritis adalah untuk menghilangkan nyeri dan peradangan, mempertahankan fungsi sendi dan kemampuan maksimal penderita serta mencegah dan memperbaiki deformitas yang terjadi pada sendi.
Adapun penatalaksanaan dapat dilakukan sebagai berikut :
1.       Istirahat pada saat nyeri dan lelah
2.    Latihan yang spesifik (gerakan aktif dan pasif) pada semua sendi yang sakit untuk mempertahankan fungsi sendi
3.      Thermotherapy (misalnya kompres hangat)
4.       Gizi seimbang. Hindari garam, mlinjo, emping, kol, daun ketela
5.       Obat-obat, pemberian NSAID bertujuan untuk mengurangi nyeri dan proses inflamasi


Referensi :
Lewis, S.M, Heit Kemper, Dirksen,2000. Medical Surgical Nursing : Assessment and Management of Clinical Problem, vol.2, ed 5, Mosby Inc, Missouri
Price, S.A, Wilson, L.M, 1995, Patofisiologi Konsep Klinis Proses Proses Penyakit (terjemahan), Ed.4, EGC, Jakarta
Pusdiknakes, 1995, Penerapan Proses Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Muskuloskeletal, Depkes RI, Jakarta

Demikian informasi yang saya peroleh mengenai rheumatoid arthritis.  Semoga bermanfaat
Salam Sehat