twitter
rss

Studi analitik adalah riset epidemiologi yang bertujuan untuk memperoleh penjelasan tentang faktor-faktor risiko dan penyebab penyakit.  Faktor risiko adalah faktor-faktor atau keadaan-keadaan yang mempengaruhi perkembangan suatu penyakit atau status kesehatan tertentu. Prinsip analisis yang digunakan dalam studi analitik adalah membandingkan risiko terkena penyakit antara kelompok terpapar dan tidak terpapar faktor penelitian.
Pada studi observasional, peneliti hanya mengamati perjalanan alamiah peristiwa, membuat catatan siapa yang terpapar dan tidak terpapar faktor peristiwa, siapa mengalami dan tidak mengalami penyakit yang diteliti.
1.         Metode Cross Sectional (Potong Lintang)
Adalah rancangan studi epidemiologi yang mempelajari hubungan penyakit dan paparan (faktor penelitian) dengan mengamati status paparan dan penyakit serentak pada individu dari populasi tunggal, pada satu saat atau periode.
Dalam rancangan studi ini peneliti memotret frekuensi dan karakter penyakit, serta paparan faktor penelitian pada populasi dan pada satu saat tertentu. Konsekuensinya data yang dihasilkan adalah prevalensi bukan insidensi.
Tujuan cross sectional adalah untuk memperoleh gambaran pola penyakit dan determinan-determinannya pada populasi sasaran.
Langkah penelitian cross sectional yaitu :
·         Mengidentifikasi variabel variabel penelitian dan mengidentifikasi faktor risiko serta faktor efek
·         Menetapkan subjek penelitian atau populasi dan sampel
·         Melakukan observasi atau pengukuran variabel – variabel faktor risiko dan efek sekaligus berdasarkan status keadaan variabel saat itu. (pengumpulan data).
·         Melakukan analisis korelasi dengan cara membandingkan Proporsi antar kelompok hasil observasi.
Kekurangan :
a.       Pada pencuplikan non acak sulit diketahui probabilitas subjek untuk terpilih dari populasi sasaran. Jika pencuplikan tersebut terpengaruh oleh status penyakit dan sasaran, maka akan terjadi bias.
b.      Tidak dapat digunakan untuk menganalisa hubungan kausal penyakit dan paparan (validitas hubungan kausal menuntut sekuensi waktu yang jelas antara paparan dan penyakit /paparan harus mendahului penyakit).
c.       Penggunaan data prevalensi menyebabkan hasil studi ini mencerminkan tidak hanya aspek etiologi tetapi juga survivalitas penyakit. Jika data prevalensi  telah terjadi selective survival, maka frekuensi yang diamati akan lebih besar dari yang seharusnya diukur sedangkan jika data prevalensi telah terjadi mortalitas selektif maka frekuensi penyakit akan lebih sedikit sehingga terjadi bias (bias prevalensi-insidensi Neyman).

Kelebihan :
a.       Mudah dilakukan, sederhana dan murah karena tidak memerlukan follow up
b.      Dalam waktu yang bersamaan dapat dikumpulkan variabel yang banyak baik variabel risiko maupun variabel efek.
c.       Tidak memaksa subjek untuk mengalami faktor yang diperkirakan bersifat merugikan kesehatan (faktor risiko).
Contoh kasus : Mengetahui hubungan antara anemia besi pada ibu hamil dengan Berat Badan Bayi Lahir (BBL), dengan menggunakan rancangan atau pendekatan cross sectional.
Langkah Pertama : Mengidentifikasi variabel-variabel yang akan diteliti dan kedudukannya masing-masing.
ü  Variabel dependen (efek ) : BBL
ü  Variebel independen (risiko ) : anemia besi.
ü  Variabel independent (risiko) yang dikendalikan : paritas, umur ibu, perawatan kehamilan, dan sebagainya.
Langkah  kedua : Menetapkan subjek penelitian atau populasi dan sampelnya.
Subjek penelitian : ibu-ibu yang baru melahirkan, dengan lingkup daerah yang dibatasi misal lingkup Rumah sakit,Rumah bersalin atau rumah sakit bersalin. Batas waktu dan cara pengambilan sampel (teknik random, atau non random) ditentukan.
Langkah ketiga : Melakukan pengumpulan data, observasi atau pengukuran terhadap variabel dependen-independen dan variabel-variabel yang dikendalikan dalam waktu yang sama.
Caranya mengukur berat badan bayi yang sedang lahir, memeriksa Hb ibu, menanyakan umur, paritas dan variabel-variabel kendali yang lain.
Langkah  keempat : Mengolah dan menganalisis data dengan cara membandingkan antar kelompok hasil. Bandingkan Berat bayi lahir dengan Hb darah ibu. Dari analisis ini akan diperoleh bukti adanya atau tidak adanya hubungan antara anemia dengan BBL.


2.         Metode Case Control / Kasus Kontrol
Adalah rancangan studi epidemiologi mempelajari hubungan antara paparan (faktor penelitian) dan penyakit, dengan cara membandingkan kelompok kasus dan kelompok kontrol berdasarkan status paparannya.
Ciri studi kasus kontrol adalah pemilihan subjek berdasarkan status penyakit, kemudian dilakukan pengamatan apakah subjek mempunyai faktor risiko atau tidak. Subjek yang menderita faktor risiko disebut kasus, sedangkan yang tidak menderita penyakit disebut kontrol.

Tahap Penelitian case control :
ü  Identifikasi variabel – variabel penelitian (faktor risiko dan efek)
ü  Menetapkan subjek Penelitian (populasi dan sampel)
ü  Identifikasi kasus
ü  Pemilihan subjek sebagai kontrol
ü  Melakukan Pengukuran retrospektif (melihat kebelakang) untuk melihat faktor risiko
ü  Melakukan analisis dengan membandingkan Proporsi antara variabel-variabel objek penelitian dengan variabel – variabel kontrol

Kekurangan :
a.       Terjadi bias informasi akibat ketidakteraturan dan ketidaklengkapan data tentang paparan atau pemberian dan pencatatan informasi tentang status paparan dipengaruhi oleh status penyakit subjek.
b.      Tidak efisien jika digunakan untuk mempelajari paparan-paparan yang langka jika beda risiko (RD) antara populasi yang berpenyakit dan tak berpenyakit kecil. Dibutuhkan ukuran sampel yang besar dan prevalensi paparan pada populasi yang berpenyakit yang cukup tinggi.
c.       Tidak dapat menghitung laju insidensi (kecepatan kejadian penyakit) baik yang terpapar maupun tidak terpapar karena subjek dipilih berdasarkan status penyakit
d.      Pada beberapa situasi tidak mudah untuk memastikan hubungan temporal antara paparan dan penyakit.
e.      Kelompok kasus dan kontrol dipilih dari dua populasi yang terpisah, sehingga sulit dipastikan apakah benar-benar setara dalam hal faktor luar dan sumber distorsi lainnya.
Kelebihan :
a.       Relatif murah dan mudah dilakukan
b.      Cocok untuk meneliti penyakit dengan periode laten yang panjang. Peneliti cukup mengidentifikasi penyakit subjek yang telah mengalami penyakit dan tidak mengalami penyakit lalu mencatat riwayat paparan jadi tidak perlu mengikuti perkembangan penyakit bertahun-tahun.
c.       Subjek dipilih berdasarkan status penyakit, peneliti leluasa menentukan rasio ukuran sampel kasus dan kontrol yang optimal
d.      Dapat meneliti pengaruh sejumlah paparan terhadap sejumlah penyakit sehingga tidak saja cocok untuk menguji hipotesis tetapi juga untuk mengeksplorasi kemungkinan hubungan paparan dan penyakit yang masih belum jelas.
Contoh kasusHubungan antara Penyakit Diabetes Mellitus (DM) pada remaja dengan perilaku pemberian makanan.
Tahap pertama : Mengidentifikasi variabel-variabel penelitian
ü  Variabel dependen: remaja yang menderita DM (juvenile diabetes mellitus)
ü  Variabel independen: perilaku ibu dalam memberikan makanan.
ü  Variabel independent yang lain: pendidikan ibu, pendapatan keluarga, informasi mengenai komposisi gula dalam makanan
Tahap kedua : Menentukan subjek penelitian (populasi dan sample penelitian). Subjeknya adalah ibu dan anak remajanya. Subjek ini perlu dibatasi daerah mana yang dianggap menjadi populasi dan sample penelitian ini.
Tahap ketiga : Mengidentifikasi kasus, yaitu remaja yang menderita diabetes mellitus. Remaja yang menderita DM ditentukan dengan standar kadar gula dalam darah.
Tahap keempat : Pemilihan subjek sebagai kontrol, remaja yang tidak menderita diabetes mellitus. Pemilihan kontrol hendaknya didasarkan pada kesamaan karakteristik subjek pada kasus. (ciri-ciri masyarakat, sosial ekonomi dan sebagainya).
Tahap kelima : Melakukan pengukuran secara retrospektif. Pengukuran terhadap kasus (remaja yang menderita DM) dan dari kontrol (remaja yang tidak menderita DM). Memberikan pertanyaan kepada remaja dan orang tuanya dengan metode recall. (jenis-jenis makanan, minuman dan komposisi gula di dalamnya dan lain-lain).
Tahap keenam : Melakukan pengolahan dan analisis data. Dilakukan dengan membandingkan proporsi remaja yang mengkonsumsi gula pada kelompok kasus dan kelompok kontrol. Diharapkan akan muncul atau tidaknya bukti hubungan antara penyakit DM dengan konsumsi gula pada remaja.

3.         Metode Cohort (Kohor)
Adalah rancangan studi yang mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit, dengan cara membandingkan kelompok terpapar (faktor penelitian) dan kelompok tak terpapar berdasarkan status penyakit.
Ciri studi kohor adalah pemilihan subjek berdasarkan status paparannya kemudian dilakukan pengamatan dan pencatatan apakah subjek mengalami penyakit yang diteliti atau tidak. Ciri lainnya adalah dimungkinkannya penghitungan laju insidensi (ID) dar masing-masing kelompok studi.
Langkah pelaksanaan penelitian cohort :
a)      Identifikasi faktor-fakor rasio dan efek
b)      Menetapkan subjek penelitian ( menetapkan populasi dan sampel )
c)       Pemilihan subjek dengan faktor resiko positif dari subjek dengan efek negatif
d)      Memilih subjek yang akan menjadi anggota kelompok kontrol
e)      Mengobservasi perkembangan subjek sampai batas waktu yang ditentukan, selanjutnya mengidentifikasi timbul tidaknya efek pada kedua kelompok
f)       Menganalisis dengan membandingkan proporsi subjek yang mendapatkan efek positif dengan subjek yang mendapat efek negatif baik pada kelompok resiko positif maupun kelompok kontrol.

Kelebihan :
a.       Kesesuaian logika studi eksperimental dalam membuat interferensi kausal (pada saat dimulai penelitian telah dipastikan semua subjek tidak berpenyakit sehingga sekuensi waktu antara paparan dan penyakit dapat diketahui dengan jelas.
b.      Peneliti dapat menghitung laju insidensi
c.       Sesuai untuk meneliti paparan yang langka (misal faktor lingkungan).
d.      Peneliti dapat mempelajari sejumlah efek secara serentak dari sebuah paparan.
e.      Pada studi kohor prospektif kemungkinan terjadi bias kecil dalam menyeleksi subjek dan menentukan status paparan.
f.        Tidak ada subjek yang sengaja dirugikan karena tidak mendapat terapi yang bermanfaat atau mendapat paparan faktor yang merugikan kesehatan.
Kekurangan :
a.       Rancangan kohor prospektif lebih mahal dan butuh waktu yang lama daripada case control atau kohor retrospektif.
b.      Pada studi kohor retrospektif butuh data sekunder yang lengkap dan handal
c.       Tidak efisien dan tidak praktis untuk mempelajari penyakit yang langka kecuali jika ukuran sampel relatif besar atau prevalensi penyakit pada kelompok terpapar cukup tinggi.
d.      Jika subjek hilang (karena migrasi, meninggal, tingkat partisipasi rendah, dsb ) dan terkait dengan paparan serta penyakit yang diteliti maka temuan menjadi tidak valid karena adanya bias waktu follow up.
e.      Tidak cocok untuk merumuskan hipotesis tentang faktor etiologi lain untuk penyakit tersebut karena faktor penelitian sudah ditentukan terlebih dahulu.
Contoh kasus : Penelitian yang ingin membuktikan adanya hubungan antara Ca paru (efek) dengan merokok (resiko) dengan menggunakan pendekatan atau rancangan prospektif.
Tahap pertama : Mengidentifikasi faktor efek (variabel dependen) dan resiko (variabel independen) serta variabel-variabel pengendali (variabel kontrol).
ü  Variabel dependen : Ca. Paru
ü  Variabel independen : merokok
ü  Variabel pengendali : umur, pekerjaan dan sebagainya.
Tahap kedua : Menetapkan subjek penelitian, yaitu populasi dan sampel penelitian. Misalnya yang menjadi populasi adalah semua pria di suatu wilayah atau tempat tertentu, dengan umur antara 40 sampai dengan 50 tahun, baik yang merokok maupun yang tidak merokok.
Tahap ketiga : Mengidentifikasi subjek yang merokok (resiko positif) dari populasi tersebut, dan juga mengidentifikasi subjek yang tidak merokok (resiko negatif) sejumlah yang kurang lebih sama dengan kelompok merokok.
Tahap keempat : Mengobservasi perkembangan efek pada kelompok orang-orang yang merokok (resiko positif) dan kelompok orang yang tidak merokok (kontrol) sampai pada waktu tertentu, misal selama 10 tahun ke depan, untuk mengetahui adanya perkembangan atau kejadian Ca paru.
Tahap kelima : Mengolah dan menganalisis data. Analisis dilakukan dengan membandingkan proporsi orang-orang yang menderita Ca paru dengan proporsi orang-orang yang tidak menderita Ca paru, diantaranya kelompok perokok dan kelompok tidak merokok.


Referensi :

  1. Murti, Bhisma. 2003. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  2. Notoadmojo, Soekidjo. Prof. Dr. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

2 komentar:

  1. terimakasih, sangat membantu

  1. thanks

Poskan Komentar