twitter
rss

Columbia, Penelitian membuktikan, daya ingat mengalami penurunan saat seseorang terlalu banyak tertawa atau berada dalam suasana hati yang gembira.

Fenomena ini dapat menjelaskan mengapa orang menjadi agak pelupa saat berada dalam sebuah pesta. Misalnya ketika bertukar nomor telepon dengan rekan lama dalam sebuah acara yang penuh canda tawa, jika tidak dicatat seringkali akan langsung lupa begitu sampai di rumah.

Lain halnya saat seorang guru matematika yang galak menyuruh siswanya menghafal hitung-hutingan perkalian. Suasana hening yang menegangkan kadang-kadang justru membuat ingatan lebih tajam sehingga lebih mudah menghafal perkalian 1 sampai 100.

Penelitian yang dilakukan oleh Dr Elizabeth Martin dari University of Missouri menunjukkan, emosi positif misalnya gembira dan senang justru mengurangi kemampuan mengingat untuk sesaat. Meski begitu, emosi negatif juga tidak serta merta meningkatkan daya ingat.

Dalam eksperimen yang dilakukannya, Dr Martin melibatkan sejumlah relawan yang dibagi menjadi 2 kelompok. Satu kelompok dipertontonkan beberapa video lucu, sedangkan kelompok yang lain dipertontonkan video tutorial pemasangan ubin yang pastinya membosankan.

Usai menonton video, seluruh pastisipan menjalani serangkaian tes untuk mengukur daya ingat. Tes itu berupa sederet angka yang diberikan secara lisan melalui earphone, lalu partisipan diminta menyebutkan beberapa angka dalam deret tersebut.

Dibandingkan partisipan yang menonton video tutorial pemasangan ubin, partisipan yang menonton video lucu lebih banyak melakukan kesalahan. Perbedaannya cukup signifikan sehingga Dr Martin menyimpulkan bahwa emosi positif bisa mengurangi daya ingat.

"Namun emosi positif juga tidak selamanya buruk. Meski daya ingat menurun, seseorang yang memiliki emosi positif biasanya justru memiliki problem solving (kemampuan memecahkan masalah) yang lebih kreatif," ungkap Dr Martin dalam laporannya di jurnal Cognition and Emotion, seperti dikutip dari Medicalnewstoday, Kamis (31/3/2011). (detikhealth.com, 31/03/2011)


A. DEFINISI
Cedera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang disertai atau tanpa disertai perdarahan interstitiel dalam substansi otak tanpa diikuti terputusnya kontinuitas otak.
Cedera kepala terbuka berarti kulit mengalami laserasi sampai pada merusak tulang tengkorak, sedangkan pada cedera kepala tertutup dapat disamakan dengan gegar otak ringan dengan disertai edema serebral.
Kup dan kontra kup menggambarkan lokasi kerusakan internal otak sebagai akibat dari proses benturan. Kontra kup adalah kerusakan yang terjadi berlawanan dengan daerah benturan. Ini merupakan akibat dari daya atau kekuatan benturan yang berjalan sepanjang jaringan otak dan karenanya berat ringannya tergantung dari kekuatan benturan tersebut.

Berdasarkan GCS (Glasgow Coma Scale), cedera kepala digolongkan kedalam :
  1. Cedera kepala ringan :
    Jika GCS antara 13-15, dapat terjadi kehilangan kesadaran kurang dari 30 menit tetapi ada yang menyebut kurang dari 2 jam, jika ada penyerta seperti fraktur tengkorak, kontosio atau hematum (sekitar 55 %).
  2. Cedera kepala sedang :
    Jika GSC antara 9-12, hilang kesadaran atau amnesia antara 30 menit – 24 jam, dapat mengalami fraktur tengkorak, disorientasi ringan (bingung)
  3. Cedera kepala berat :
    Jika GCS antara 3-8, hilang kesadaran lebih dari 24 jam, juga meliputi kontosio serebral, laserasi atau adanya hematum atau edema.

B. MANIFESTASI CEDERA

  1. Fraktur Tengkorak
                    Susunan tulang tengkorak dan lapisan kulit kepala membantu menghilangkan tenaga benturan kepala sehingga sedikit kekuatan yang ditransmisikan kedalam jaringan otak.
                    Ada dua bentuk umum dari fraktur yaitu fraktur garis (linear) umum terjadi disebabkan oleh pemberian kekuatan yang amat berlebih terhadap luas area tengkorak tertentu dan fraktur tengkorak seperti bagian tulang frontal / temporal.
  2. Gegar otak
    merupakan sinfrom yang melibatkan bentuk cedera otak ringan yang menyebar. Gangguan neurologis sementara dan dapat pulih tenpa ada kehilangan kesadaran. Mungkin mengalami disorientasi ringan, pusing, gangguan memori sementara, kurang konsentrasi, mungkin juga mengalami amnesia retrogate.
  3. Kontosio
    Menggambarkan area otak yang mengalami memar. Memar umumnya pada permukaan yang disertai dengan hemoragik kecil-kecil pada substansi otak. Gejala bervariasi tergantug lokasi dan derajat. Dapat menimbulkan edema serebral 2-3 hari post trauma. Akibatnya dapat menimbulkan peningkatan TIK (tekanan intra kranial) dan meningkatkan mortalitas (45%)
  4. Hematum Epidural
    perdarahan yang terjadi pada ruang epidural yaitu antara tulang tengkorak dan lapisan durameter. Ini terjadi karena adanya robekan cabang kecil arteri meningeal media / meningeal frontal
  5. Hematum Subdural
    perdarahan yang terjadi pada ruang subdural antara lapisan durameter dan lapisan arachnoid, terjadi sebagai akibat robekan vena yang ditemukan pada ruang ini
  6. Hematum Subarachnoid
    Perdarahan yang terjadi pada ruang arachnoid yaitu antara lapisan arachnoid dengan piameter. Seringkali terjadi karena adanya vena yang ada di daerah tersebut.
  7. Hematum Intracerebral
    penggumpalan darah 25 ml atau lebih pada parenkim otak. Penyebabnya seringkali karena adanya infresi fraktur, gerakan akselerasi dan deselerasi yang tiba-tiba.

    C. POTENSI KOMPLIKASI
    ada beberapa komplikasi yang dapat terjadi setelah cedera kepala :
    1. Kejang
    2. Bocornya cairan serebrospinal
    3. Hipertermia
    4. Masalah Mobilisasi
    5. Infeksi
    6. Hipovolemik

D. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
beberapa jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain : CT scan, foto tengkorak, MRI, AGD (Analisa Gas Darah) untuk mengetahui adanya masalah ventilasi atau oksigenasi yang akan dapat meningkatkan TIK. Kadar kimia/elektrolit darah : mengetahui ketidakseimbangan yang berperan dalam meningkatkan TIK.  

A.      DEFINISI
Merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dan ditularkan oleh unggas . Strain yang sangat virulen/ganas dan menyebabkan flu burung adalah dari subtipe A  H5N1. Virus tersebut dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 22°C dan lebih dari 30 hari pada 0°C. Virus akan mati pada pemanasan 60°C selama 30 menit atau 56°C selama 3 jam dan dengan detergent, desinfektan misalnya formalin, serta cairan yang mengandung iodine. (litbang depkes RI)

B.      TANDA DAN GEJALA
Gejala flu burung menurut litbang depkes RI meliputi :  
1)      Gejala pada unggas : Jengger berwarna biru, borok  dikaki, kematian  mendadak
2)      Gejala pada manusia : Demam (suhu badan  diatas 38° C), batuk dan nyeri  tenggorokan, radang saluran pernapasan  atas, pneumonia, Infeksi   mata, nyeri  otot.
Pendapat senada dikemukakan CDC, tanda dan gejala avian influenza pada manusia berkisar dari infeksi mata (konjungtivitis) dengan gejala penyakit influenza seperti (misalnya, demam, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot) untuk penyakit pernafasan parah (misalnya pneumonia, gangguan pernapasan akut, virus pneumonia) kadang-kadang disertai mual, muntah diare, dan perubahan neurologis.
Panas lebih dari 38 derajat celcius, batuk, dan sakit tenggorokan. Pasien seperti ini oleh WHO disebut Possible case of Influenza A (H5N1).Keadaan itu dapat menjadi semakin berat jika timbul pneumonia disertai sesak nafas (radang paru) dan menyebabkan angka kematian yang tinggi  (www.infeksi.com).
Masa inkubasinya sangat singkat 1-3 hari, Meskipun belum terbukti adanya penularan dari manusia ke manusia , masa infeksiusnya (masa dimana penderita Avian Flu H5N1 diperkirakan mampu menularkan virus) adalah 1 hari sebelum tampak gejalanya dan 3-5 hari setelah tampak gejalanya dengan maksimum 7 hari 

C.      PENULARAN
1.       Langsung
Penularan terjadi pada kontak langsung dari kulit pasien ke kulit pejamu rentan lain, dalam hal ini petugas kesehatan pada saat memandikan pasien atau melaksanakan tindakan keperawatan yang lain.
2.       Secara tidak langsung dengan melibatkan benda perantara, yang biasanya benda mati seperti alat kesehatan, jarum, kasa pembalut, tangan yang tidak dicuci, sarung tangan bekas.
Droplet:
Meskipun secara teori penularan droplet atau melalui percikan merupakan bentuk lain dari penularan secara kontak, namun mekanisme perpindahan kuman patogen dari pejamunya sangat berbeda dengan sebagaimana kontak langsung maupun tidak langsung. Percikan dihasilkan oleh pejamu (yang berdiameter >5mm) melalui batuk, bersin, bicara dan selama pelaksanaan tindakan tertentu seperti penghisapan lendir dan bronkoskopi. Percikan yang berasal dari pejamu tersebut terbang dalam jerak dekat melalui udara dan mengendap di bagian tubuh pejamu lain yang rentan seperti: konjungtiva, mukosa hidung, atau mulut.
Hingga sejauh ini penularan yang terjadi adalah dari burung/unggas/ayam yang terjangkit Flu-Burung ke manusia melalui kotoran atau sekreta burung yang mencemari udara dan tangan penjamah. (www.infeksi.com).

D.      PENCEGAHAN
Menurut litbang depkes, pencegahan flu burung meliputi pencegahan pada unggas serta pada manusia.
1.       Pada Unggas : Pemusnahan unggas/burung yang terinfeksi flu burung  serta Vaksinasi pada unggas yang sehat
2.       Pada Manusia :
a)      Kelompok berisiko tinggi ( pekerja peternakan dan pedagang).
ü  Mencuci tangan dengan desinfektan dan mandi sehabis bekerja.
ü  Hindari kontak langsung dengan ayam atau unggas yang terinsfeksi flu burung.
ü  Menggunakan alat pelindung diri. (contoh : masker dan pakaian kerja).
ü  Meninggalkan pakaian kerja ditempat kerja. 
ü  Membersihkan kotoran unggas setiap hari.
ü  Imunisasi.
Rekomendasi sementara untuk pencegahan bagi mereka yang terlibat dalam peternakan/penyembelihan unggas/burung/ayam secara masal terutama di daerah terjangkit yang dikeluarkan oleh WHO/WPRO Manila 14 Januari 2004 adalah sebagai berikut :
1.       Basuh tangan sesering mungkin, penjamah sebaiknya juga melakukan disinfeksi tangan (dapat dengan alcohol 70%, atau larutan pemutih/khlorin 0,5%untuk alat2/instrumen)
2.       Gunakan alat pelindung perorangan seperti masker, sarung tangan, kaca mata pelindung, sepatu pelindung dan baju pelindung pada waktu melaksanakan tugas dipeternakan yang terjangkit atau di laboratorium
3.       Mereka yang terpajan dengan unggas/burung/ayam yang diduga terjangkit sebaiknya dilakukan vaksinasi dengan vaksin influenza manusia yang dianjurkan oleh WHO dalam rangka mencegah infeksi campuran Flu-Manusia dengan Flu-Burung , yang kemungkinan dapat menyebabkan jenis virus Flu-Burung baru yang dapat menginfeksi manusia.
4.       Lakukan pengamatan pasif terhadap kesehatan mereka yang terpajan dan keluarganya. Perhatikan keluhan-keluhan seperti Flu, radang mata, keluhan pernafasan). Orang berisiko tinggi terkena influenza yaitu mereka yang berusia lebih 60 tahun , atau berpenyakit paru dan jantung kronis tidak boleh bekerja di peternakan unggas/burung/ayam.
5.       Lakukan survei serologis pada mereka yang terpajan termasuk kepada dokter-hewan
6.       Jika terdapat risiko untuk menghirup udara yang tercemar di peternakan /tempat penyembelihan yang terjangkit , diajurkan pencegahan dengan obat antiviral (antara lain dengan Oseltamivir 75 mg dalam kapsul , 1 kali sehari selama 7 hari).
7.       Pemeriksaan laboratorium untuk memastikan dan mengisolasi virus penyebabnya : Kirimkan spesimen darah dan alat-alat dalam (usus, hati, hapusan hidung dan mulut, trachea, paru, limpa, ginjal, otak dan jantung) binatang yang diduga terjangkit penyakit itu (termasuk babi) ke laboratorium yang berwenang.

Pencegahan bagi tenaga kesehatan (www.infeksi.com) :
1)      Memperlakukan semua darah dan cairan tubuh sebagai bahan infeksius, hindari menjamahnya dengan tangan telanjang atau segera cuci bila mungkin tercemar
2)      Cuci tangan (dengan air mengalir dan sabun/antiseptik, gosok selama 10 detik, dan lap kering) sebagai tindakan rutin: sebelum dan setelah menjamah pasien, sebelum memakai dan setelah melepas sarung tangan
3)      Kenakan masker, penutup kepala, kaca mata pelindung, sarung tangan, gaun pelindung, sepatu pelindung, ketika memasuki ruang pasien. Selama melaksanakan tindakan, ganti sarung tangan setelah menjamah bahan infeksius. Gaun pelindung (tidak perlu steril), pilih yang sesuai dengan tindakan yang akan dilaksanakan (kedap air atau tidak). Lepas gaun sebelum meninggalkan ruangan dan pastikan baju kerja tidak terkontaminasi.
Lepas sarung tangan sebelum keluar ruangan dan cuci tangan segera dengan antiseptik dan pastikan setelahnya tidak lagi menjamah permukaan di ruang pasien yang mungkin tercemar.
4)      Pasien ditempatkan dalam ruang tersendiri. Bila tidak tersedia ruang tersendiri dapat ditempatkan bersama pasien dengan diagnosis yang sama. 
5)      Batasi pemindahan pasien ke ruang lain kecuali sangat diperlukan. Bila terpaksa,kenakan masker pada pasien dan selimut bersih rapat, pastikan kewaspadaan universal tetap terjaga untuk menekan risiko penyebaran mikroorganisme ke pasien lain dan pencemaran permukaan lingkungan atau peralatan lain.
6)      Bila mungkin alokasikan alat kesehatan khusus untuk pasien tersebut atau bersama dengan pasien sejenis untuk menghindari penyebaran antar pasien. Bila menggunakan alat untuk pasien umum, maka perlu pembersihan yang memadai dan disinfeksi sebelum dipakai untuk pasien lain.

b)      Masyarakat umum
ü  Menjaga daya tahan tubuh dengan memakan makanan bergizi & istirahat cukup.
ü  Mengolah unggas dengan cara yang benar, yaitu :
·         Pilih unggas yang sehat (tidak terdapat gejala-gejala penyakit pada tubuhnya)
·         Memasak daging ayam sampai dengan suhu ± 80°C  selama 1 menit dan pada telur sampai dengan suhu ±  64°C selama 4,5 menit.

E.       PENATALAKSANAAN (Kepmenkes RI no 155 tahun 2007)
1.    Pengobatan antiviral, diberikan secepat mungkin (48 jam pertama)
o   Dewasa atau anak-anak ≥ 13 tahun diberikan Oseltamivir 2x75 mg / hr selama 5 hari
o   Anak ≥ 1 tahun dosis oseltamivir 2 mg/kg BB  2x sehari selama 5 hari
2.     Prophylaxis
1x75 mg diberikan pada kelompok resiko tinggi terpajan sampai 7-10 hari dari pajanan terakhir. Penggunaan prophylaxis jangka panjang dapat diberikan maximal hingga 6-8 minggu.
Pengobatan lain meliputi :
1)      Antibiotik spektrum luas yang mencakup kuman atipikal dan tipikal
2)      Methylprednisolon 1-2 mg/kg BB IV diberikan pada pneumonia berat, ARDS atau pada syok sepsis yang tidak respons terhadap obat vasopresor
3)      Terapi lain, terapi symtomatik, vitamin



F.       REFERENSI
Kepmenkes RI no 155 / MENKES /SK /II/ 2007 Tentang Pedoman Pelaksanaan Penderita Flu Burung di Rumah Sakit

Demikian informasi yang saya peroleh tentang flu burung / avian flu / H5N1, semoga bermanfaat dan salam sukses